Skip to content

SEMANGATKU ADALAH GAIRAHKU

“Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”. (QS: 55 Ayat 33)

“Mbolang” ke Malaysia dan Singapura (2)

11/02/2017

KLCC Rabu (1/1) Setibanya di stesen KJ 10 KLCC keinginan pertama adalah mencari masjid untuk sholat dluhur yang dijama’ dengan sholat ‘ashar selanjutnya bisa menikmati makan siang. Keluar dari stesen KLCC untuk menuju masjid melewati depan bangunan SURIA KLCC yang berdiri megah Twin Tower yang menjadi ikon Kuala Lumpur . Akhirnya mendapatkan  masjid Asy-syakirin yang sedang direnovasi di atap masjid tersebut. Selanjutnya menuju tandas (toilet) dan tempat wudlu, sorta melaksanakan sholat berjamaah.

Menyelesaikan sholat di masjid Asy-Syakirin sagera melangkah menuju KLCC Park dan tentunya rileks dan berfota ria dekat kolam, serta di atas jembatan dengan berbagai ruang pandangan yang luas.

Agar lama berada di KLCC Park dari ruang ke ruang, sekaligus berfoto dan berselfi ria  selanjutnya menuju ke mal di SURIA KLCC untuk segera mendapatkan hak perut untuk diisi yang jadwalnya pun sudah terlambat karena lama berada di luar pusat perbelanjaan. Sana-sini, mondar-mandir akhirnya mendapatkan tempat makan yang nyamin di Suria KLCC dengan yang setingkat rumah makan Padang ala menu melayu India.

“MBolang” ke Malaysia dan Singapura

06/01/2017

Jakarta Rabu (1/1), Bocah Petulang (Mbolang = melakukan petualangan ala anak-anak atau kebanyakan orang sering menyebut “Backpacker” maka bersama penerbangan Air Asia dengan kode AK 383 tertera boarding time 07.50 dimulai pada seat 10 A kami berenam memulai perjalanan ke Negara tetangga. Dengan mendapat seat sederet saat persiapan terbang dari Jakarta T2 menuju Kuala Lumpur KLIA2 pagi itu kami semangat ketelah dua minggu yang lalu (18-21 Januari 2017)  dengan rombongan besar seluruh karyawan  kantor mempunyai hajat Capacity Bulding ke Bali. Tanpa terasa sudah di landasan pacu bandara Soekarno-Hatta dan sekitar pukul 8.50 WIB pesawat sudah lepas landas untuk membawa ke Negeri Jiran yang mendarat di bandara KLIA2 di Kuala Lumpur.

Sekian lama penerbangan menyempatkan untuk tidur, saat menjelang pendaratan berdiskusi dengan sebelah bangku untuk mencari informasi seputar destinasi di Malaysia yang di dapat pada majalah. Akhirnya menggambil foto dan membandingkan dengan rencana awal yang judah dipersiapkan dari Jakarta. Akhirnya sekitar pukul 10.20 waktu setempat, pesawatpun mendarat di KLIA 2. Segera berburu tandas (toilet) dan menuju check point imigrasi Malaysia untuk sagera dapat keluar dari bandara dan melanjutkan perjalan berikut dengan segera.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bandara KLIA 2 Kuala Lumpur

SAM_2325.JPG

Pose sebelum di Imigrasi KL

Tujuan pertama adalah menuju KL Sentral dengan menggunakan bus dengan tiket tertera Transportation Hub KLIA 2-KL SENRAL dengan membayar 12 RM akhirnya sampai di KL Sentral.  Melalui jalan tol yang lancar saat dengan kanan kiri-kiri jalan perkebunan sawit dan mendekati KL Sentral berbagai apartemen dan kantor perusahaan akhirnya tiba di KL Sentral, dengan jalan naik tangga langsung terkoneksi dengan stesen KL Sentral.

SAM_2333.JPG

Papan Kenyataan LRT

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Peta Transit Berintegrasi Lembah Klang

Agak lama beradaptasi di dalam stesen dan membeli chip coin untuk masuk di peron keberangkatan dengan kode stesen KJ15 KL  Sentral menuju KJ 10 KLCC, sekaligus kewajiban “mbolang” adalah berfoto ria, sekaligus mondar-mandir. Tajuan berikut adalah ke KLCC untuk mencari masjid dan berfoto di Taman KLCC.

Dalam Gambar @Pulau Bali

25/12/2016

Bali (Kamis 19/1).

Pandawa bali

Berlima @ Pantai Pandawa, Bali

img_0557

Pantai Pandawa in action

img_0558

Pantai Pandawa seru

 

IMG_0555

rame2 saat setelah makan siang, menuju bandara I G Ngurah Rai, Bali

Tenggarong Kutai Kertanegara (2)

16/12/2016

Rabu (14/12) Menjelang pukul 7:30 WIB Bis Damri merapat di pintu 4 terminal 3 bandara Soekarno-Hatta yang hampir satu jam membawa kami dari Terminal Lebak Bulus di Jakarta Selatan. Bersama rekan Dewi segera menuju ke tempat check in untuk cetak boarding past yang sudah dilakukan melalui mobile check in menjelang pukul 23:30 dengan memilih sheat 33 K saat setelah tiba di rumah, yang selama dua hari menyelesaikan tugas fasilitator pada kegiatan Bimtek Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru Garis Depan di Twin hotel Slipi, Jakarta Barat.

Saat rekan Dewi menyelesaikan komplain di custamer service karena pada penerbangan sebelumnya dari Balikpapan ke Jakarta tidak terdata di Garuda miles, menyusul rekan Imam Zulkarnaen bergabung pada penerbangan Jakarta ke Balikpapan yang semua dari kami berempat dengan rekan Adrian.

Menjelang waktu boarding di di ruang tunggu pintu 11 saat menikmati siomay di counter ruang tunggu, diumumkan bahwa penumpang tujuan Balikpapan dipindahkan ke ruang tunggu pintu 12. Segera menyelesaikan hidangan dan bergegas menuju ruang tunggu di pintu 12 dan memisahkan diri karena akan mampir ke toilet lebih dulu.

Setelah duduk di sheat 33 K pesawat Airbus 330-200 mencermati boarding past ada hal yang aneh karena sisi boarding past yang seharusnya di robek masih ada di tangan, langsung menyapa pramugari dan menjelaskan kenapa masih ada dua sisi boarding past. Dijelaskan bahwa nanti ada petugas yang akan menangani, akhirnya kekuatiran sedikit lega bahwa nama penumpang tidak tercatat serta pasti nama Dwi Cahyo Widodo diumumkan berulang-ulang di ruang tunggu. Petugas mencari sheat 33 K dan mengambil sisi kecil boarding past serta menanyakan “Tadi masuk lewat mana?” langsung kujawab melalui Sky Priority tetapi rupanya petugas hanya mengarahkan lorong ke pesawat tidak menscan barcode boarding past.

Menuju Kota Tenggarong Kab. Kutai Kertanegara

06/12/2016

Minggu (4/12) Perjalanan kali ini adalah ke Tenggarong yang merupakan Ibu kota Kabupaten Kutai Kertanegara. Seingat saya saat Sekolah Dasar merupakan satu-satunya nama kerajaan besar dan berpengaruh di Kalimantan Timur yang selalu di hafal, karena nama-nama kerajaan yang dihafal sebagian besar di pulai Jawa dan Sumatera. Bahkan sampai raja-rajanya selalu muncul dalam tes di pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Dalam ingatan saya Kutai Kertanegara adalah kerajaan yang berdiri di tahun 400 Masehi yang beragama Hindu, dan raja yang terkenal Mulawarman dengan peninggalan prasasti dinamai Yupa.

Dengan perjalanan darat di malam hari dari bandara Sepinggan Balikpapan menuju Tenggarong Kukar sekitar pukul 20.00 wita, maka tidak banyak visual yang terekam. Hanya beberapa gambaran yang diinformasikan oleh Bapak Lulus yang menjemput kami di bandara, sebagian informasi yang saya ingat, seperti lintas setelah keluar kota Balikpapan melewati bukit Suharto, jalan menjelang kota Tenggarong berada di sisi kiri sungai Mahakam, sampai cerita tentang robohnya jembatan yang berada di atas sungai Mahakam. Bahkan saat kejadian robohnya jembatan tersebut, beliau bercerita beberapa menit sebelumnya melintasi jembatan dan mendengar suara dentuman yang ternyata baru tahu kalau jembatan tersebut terputus. Akhirnya selepas pukul 23.15 wita kami tiba di Fatma Hotel sebagai tempat penginapan untuk dua malam, yang berada dekat sungai Mahakaam.

Sempat merasa kecewa pada perjalanan kali ini karena alat untuk merekam visual tidak terbawa, ada handphone yang berkamera tetapi kabel dan charger pengisi batteray tidak ada dalam tas karena untuk colokan kabelnya berbeda dengan merk handphone pada umumnya. Begitu pula dengan tablet mini sama merk dengan handphone pun sam persih dengn kamera saku yang biasanya di tas kecil tidak terbawa alias tertinggal, yang ada hanya power bank dan handphone manual klasik yang tidak perlu dirisaukan cara mengisi batteraynya karena dapat bertahan dapat digunakan sampai lima hari. Kalaupun habis batteray dapat meminjam charger dan kabel teman. Handphone berseri J105 dari No**a berwarna biru tersebut merupakan andalan jika melakukan perjalan beberapa hari, saat itu pun dibeli sewaktu ke Kota Cane di Aceh Darussalam karena kabel charger Iphone 5 tidak berfungsi dan harus mencari malam-malam di konter hp sehubungan esok harinya ada janjian dengan teman di bandara Seotta untuk perjalan lanjut ke lain di pulau Sumatera.

Pagi hari saat kumandang adzan subuh sayup-sayup terdengar dari masjid alhamdulillah sudah terjaga dan selesai mandi pagi, karena setting alarm rupanya lebih awal karena waktu berubah otomatis lebih awal satu jam adanya perbedaan tempat. Persiapan untuk menuju ke lokasi kegiatan di Ruang serbaguna Dinas Pendidikan Kutai Kertanegara siap, dan setelah sarapan usai selepas pukul 07.00 wita dengan kami bersama bapak Safitri dengan mobil hitamnya menuju ke tempat kegiatan. Rupanya setelah keluar hotel Fatma baru sadar kalau di depan hotel ada Masjid yang berada di sisi sungai Mahakam dengan ikon TEGGARONG di pinggir sungai tersebut. Berharap saat tanggal 15 Desember 2016 untuk kunjungan kedua nanti insya Allah tidak ada halangan dan dapat merekam foto-foto suasana elok kehidupan di sisi sungai Mahakam itu.

Kegiatan hari itu cepat berlalu karena hanya sehari, namun dengan ruangan yang agak besar agak sedikit mengganggu alat suara sebab tidak menggunakan sound system berhubung ada kelas lain di ruangan besar tersebut di sisi lain. Siang hari kami makan siang di luar, dan melanjutkan kegiatan hingga pukul 17.00 wita. Setibanya di hotel kami dipesankan untuk malam harinya makan malam yang akan di jemput sekitar pukul 19.00 wita.

Selepas waktu yang dipesankan akhirnya kami menuju ke sebuah lokasi dengan halaman sebuah boutiq, sedangkan di lantai kedua terdapat cafe & Resto yaitu  “Dapurkoe”. Suasana cukup indah dan nyaman  sempat memilih tempat duduk di dalam ruangan dan akhirnya berpindah ke luar ruangan saat rombongan lain menyusul. Sambil menunggu hidangan  live music mulai disiapkan serta menikmati suasana sisi ke arah sungai Mahakam di seberang jalan yang terlihat dari lantai dua terbuka, sehingga aliran sungai Mahakam nampak samar-samar dari lampu taman dan sesekali ada alat transportasi air melintas.

Setelah menikmati hidangan makan dan minum di malam itu, dengan ramah dan ceria kami bertiga yang ditemani empat rekan guru dan kepsek serta bapak Tulus sebagai Kepala Bidang Dikdas menikmati suasana itu hingga sekitar pukul 21.00 wita saat kami harus meninggalkan tempat tersebut untuk menuju hotel kembali. Berlima kami menuju hotel, dan penasaran karena saat di “Cafe & Resto Dapurkoe” saat rekan kami ikut menyumbangkan lagu di live music belum puas serta saya sendiri tidak PD menyanyi live, akhirnya kami melanjutkan ke tempat Karaoke yang berada di gerbang hotel Fatma. Akhirnya memutuskan cukup dengan mengambil satu jam berkaraoke, cukup “merelakskan diri” sebelum istirahat untuk persiapan pagi hari menuju ke bandara Sepinggan di Balikpapan yang membutuhkan waktu lebih dari tiga jam.

Grafik views dan visitors Blog, menjelang Aksi Damai 212 di awal Desember 2016

03/12/2016

Ada hal agak berbeda di grafik views dan visitors menjelang Aksi Damai 212, teruatama empat hari menjelang Jum’at, 2 Desember 2016. Yaitu diantara pengakses dari luar Indonesia melonjak lebih dratstis dari Negara Amerika, dan beberapa negara lainnya meningkat cukup tajam. Rupanya perhatian mereka dimungkinkan diantaranya warga RI disana ataupun memang warga asing yang ingin mendapatkan informasi tentang aksi tersebut yang kemungkinan menjadi isu berita di negara tersebut.

Berikut grafifik views dan visitors di hari Selasa, 29 Nopember 2016, dengan berturut dilampirkan diantara pengunjung blog onopirododo.wordpress.com dari negara pengakses.

grafik pre 212.PNG

grafik pre 212.2.PNG

Hari Selasa, 29 Nopember 2016

grafik-pre-212-3

Hari Rabu, 30 Nopember 2016

grafik pre 212.4.PNG

Hari Kamis, 1 Nopember 2016

Cuaca mendung dan cerah silih berganti menaungi para jamaah peserta Aksi Bela Islam III di silang Monas, Jakarta. Secara umum cuaca pada 2 Desember 2016 pagi menggambar cukup sejuk.

Dua kali turunnya hujan itu pertama berlangsung ketika pimpinan Majelis Az-Zikra, KH. Arifin Ilham tampil ke muka panggung untuk memimpin zikir dan doa. Di sela-sela doa panjangnya untuk kaum muslimin Indonesia, hujan lalu turun.

Dai yang dikenal dengan suara serak-serak basah itu pun mengharap agar hujan tersebut adalah bagian dari tanda doa-doa peserta aksi dikabulkan.

“Ya Allah rahmat-Mu kau turunkan untuk kami ya Allah. Hujani kami dengan rahmat-Mu ya Allah… Sebagai tanda harapan kami Kau ijabah, doa kami Kau ijabah, (Allahumma) shoyyiban nafi’an [Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat, red],” pintanya yang membuat lautan peserta aksi bergemuruh dan banjir air mata.

Aksi damai 212 di Monas. (Okezone)

Suasana di silang Monas saat Aksi Damai 2 Desember 2016

Link gambar dari http://news.okezone.com/read/2016/12/03/337/1557834/aksi-2-desember-benar-benar-berjalan-super-damai

Aksi super damai 2 Desember 2016 telah usai yang berlangsung dengan sangat tertib. Hal ini menandakan massa benar-benar meyakini prinsip Bhineka Tunggal Ika.

Tertib dan lancarnya aksi 212 ditandai dengan hadirnya petinggi negara, seperti Presiden RI Joko Widodo, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, dan petinggi lainnya. Aksi damai ini berjalan sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia.

Penangkaran buaya Asam Kumbang Medan Sumatera Utara

02/12/2016

Melanjutkan tulisan penangkaran buaya Asam Kumbang di balik pagar lapangan sepak bola SMPN 1 Kota Medan (https://onopirododo.wordpress.com/2016/10/28/medan-lagi-cari-cari-sendiri-biasanya-tinggal-terima-kunci/) akhir bulan Oktober 2016, kali ini kunjungan di bulan berikutnya di sekolah tersebut, kami (Dwi Cahyo, Rudi Bhakti, Abdul Munir, dan Alam) menyempatkan mengunjungi destinasi yang sering diliput oleh beberapa stasiun televisi dan media lain.  Akhirnya pada minggu keempat bulan Nopember 2016 atas rasa penasaran kami, dari puluhan kali mengunjungi kota Medan, terbayarkan sudah di bulan Nopember 2016 singgah mengunjungi lokasi penangkaran buaya tersebut.

Kali ini merupakan lanjutan di kegiatan berkaitan dengan guru-guru PJOK SMP Kota Medan sebulan yang lalu, setelah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Medan yang singkat. Dari saat awal sudah berkompromi tim admin yang mengelola empat local kelas, maka dari saat menentukan waktu dan maskapai dari bandara Soetta di Cengkareng sampai hotel tempat menginap merupakan satu paket. Hal tesebut berbeda dengan saat kegiatan awal di akhir bulan lalu, baik tiket pesawat dan hotel mencari sendiri walaupun tiba di Medan belum terlalu malam. Berempat menuju ke bandara di sore hari yang berharap saat magrib sudah tiba di Soetta Cengkareng, berhubung jadwal penerbangan di pukul 19.05 wib dan setelah sekitar dua jam bisa tiba di bandara Kualanamu Medan serta harus menuju hotel dapat ditempuh satu jam karena sudah malam untuk bisa istirahat.

Senin (21/11) pagi hari persiapan dan kegiatan, maka saat istirahat di tengah hari kami sempatkan untuk mengunjungi lokasi lokasi penangkaran buaya Asam Kumbang di Jalan Bunga Raya II No, 59 Sunggal, Kec. Medan Selayang Kota Medan. Dengan menggunakan alat transportasi bentor meluncurlah dari SMPN 1 Medan yang berada di Jl. Bunga Asoka No.6, Asam Kumbang, Medan Selayang, Kota Medan, yang tidak memerlukan waktu yang lama yaitu tidak lebih 10 menit memutar ke kanan dari pintu gerbang sekolah menuju lokasi penangkaran buaya Asam Kumbang yang berada di belakang sekolah.

Setelah melintasi jalan raya dan memasuki jalan perkampungan tiba di halaman tempat penangkaran, dengan membayar tiket non pelajar yaitu Rp. 8.000,-  selanjurnya berbaur dengan pengunjung lainnya. Dari sekian buaya yang ditempatkan di darat yang dibatsi dengan tembok setinggi sekitar 1,5 meter ada buaya-buaya yang berumur hingga 43 tahun. Selain itu sebagian besar buaya-buaya berada di kolam danau yang luas dibatasi pagar yang bersampingan dengan rumah penduduk, sekolah, atau beberapa usaha di sekitarnya.

Berikut beberapa dokumen gambar berkaitan dengan penangkaran buaya Asam Kumbang yang didirikan oleh Lo Tan Muk sejak tahun 1959, dengan menggunakan kamera saku yang saya siapkan.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAM_1821.JPG

Dari ratusan buaya baik yang di darat maupun di danau salah satu diantara orang-orang yang bekerja (pawang) adalah pak Jemari. Bapak yang berasal dari Kebumen Jawa Tengah ini sudah lebih dari 20 tahun terlibat di penangkaran buaya  Asam Kumbang ini. Pak Jemari dengan ramah melayani, diantaranya atas permintaan salah satu pengunjung dia memberikan umpan buaya dengan melemparkan anak-anak burung Kuntul. Menurut beliau jika malam hari karena berlebihan burung-burung kuntul yang bertengger di pohon-pohon seputar danau yang sebagian rusak dan tumbang, maka burung-burung kuntul tersebut.  Pengunjung yang memesan perlu mengeluarkan biaya seharga 35.000 rupiah untuk pembelian anak-anak burung  atau pun bebek, atau ayam yang diumpankan tersebut.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bapak Jemari si pawang buaya di penangkaran Asam Kumbang Medan

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Berlatar belakang jeruji di balik danau Penangkaran buaya Asam Kumbang Medan