Skip to content

SEMANGATKU ADALAH GAIRAHKU

“Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”. (QS: 55 Ayat 33)

JABATAN FUNGSIONAL GURU DAN ANGKA KREDITNYA

21/11/2017

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, sesuai dengan tahun diundangkan sudah cukup lama tetapi masih ada guru yang belum memahami dan mengetahui tentang unsur, sub-unsur, dan kegiatan dalam rincian kegiatan guru dan angka kreditnya. Hal tersebut jika disinggung dan ditanyakan status pangkat dan golongan serta angka kredit komulatif terakhir masih ada guru yang menjawab “tidak tahu”. Sedangkan untuk pembinaan karier guru seharusnya sebagai seorang guru harus tahu posisi angka kredit terakhir serta keputusan yang harus dipenuhi untuk target di tahun berikutnya, dalam hal ini akan selalu berkaitan dengan penyusunan SKP (Sasaran Kinerja Pegawai) pada setiap tahunnya.

Mengenai hal tersebut di atas terdapat persepsi guru bahwa untuk kenaikan pangkat dan golongan, masih seperti yang lalu-lalu segala administrasi diurusi oleh tenaga administrasi. Maka selayaknya untuk strategi ke depan harus merubah pola pikir dan tindakan, agar hal-hal yang menjadi kendala selama ini mampu diatasi untuk hasil yang progresif pada kariernya sebagai guru.

Berikut lampiran Permenpan RB Nomor 16 Tahun 2009, KLIK yang berwarna biru.

Peraturan_Menteri_Negara_Pendayagunaan_Aparatur_Negara_Dan_Reformasi_BirokrasiNomor_16_Tahun_2009_Tentang_Jabatan_Fungsional_Guru_Dan_Angka_Kreditnya

Sedangkan mengenai Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya ditetapkan dalam Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010. Peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan pada tanggal 6 Mei 2010 dan berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2013

Berikut lampiran Peraturan bersama Mendiknas dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor  14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya , KLIK yang berwarna biru.

Peraturan Bersama Mendiknas dan BKN Nomor: 03/V/PB/2010 dan Nomor : 14 Tahun 2010.

Advertisements

Indahnya di Pantai (Blang Pidie Aceh Barat Daya)

30/10/2017

Belum menyempatkan waktu untuk menuliskan kata-kata yang pas untuk kegiatan tanggal 16 s.d 23 Oktober 2017 di Blangpidie Aceh Barat Daya.  Di sela-sela waktu disempatkan menikmati keindahan alam. Berikut dokumen yang tersimpan di handphone.

 

 

Paradigma orangtua dalam pendidikan di Finlandia

29/09/2017

Membuka-buka lagi buku “Gurunya manusia” oleh Munib Chatib yang saya beli di toko buku besar di kawasan jalan Margonda Kota Depok awal talun 2012, ada suatu hal yang patut diperhatikan sebagai orangtua dalam mendidiknya. Maka kolaborasi orang tua dan guru di sekolah merupakan salah satu daya dukung terhadap keberhasilan anak dalam belajar.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai orangtua untuk merubah paradigma lama. Paradigma orangtua, guru dan orangtua yang telah menjadi sahabat sejati di negara Finlandia.

  • Penghormatan terhadap guru dan sekolah. Orangtua sancta menghormati guru dan sekolah. Mereka menganggap guru adalah orangtua kedua dan sekolah adalah rumah kedua. Sekolah bukan tempat yang menyeramkan, penyebab tekanan båtin, dan ketegangan. Dengan seluruh daya dan upaya, para guru berusahan memahami kondis intelektual dan emosi siswa, bahkan sampai ke hal-hal keil.
  • Mengajar adalah pekerjaan rumit. Orangtua memehami bahwa pekerjaan mengajar adalah pekerjaan yang kimpleks dan penh dinakika sehingga perlu didukung dalam semua aspek. Apabilaguru mengalami kesulitan mengajar kepada seorang siswa, orangtua mereka akan membantu semaksimal mungkin. Bukan sebaliknya, ketika siswa belum tuntas dalam belajar, orangtua malah menyalahkan gurunya.
  • Guru itu pahlawan. Orangtua menganggap guru adalah pahlawan kesuksesan anak mereka. Pemandangan yang sering terlihat, banyak siswa menghias dan memajang foto di kamarnya, bakhan dengan diberi tambahan kalimat, “You are my inspirationa“. Tidak ada lagi guru killer.
  • Mementingkan proses. Orangtua cenderung tidak terlaulu peduli tehadap asilo belajar ana, tapi mereka lebih peduli terhadap proses belajar anak. Setiap usaha anak selalu mendapatkan apresiasi dari orangtua, apa pun hasilnya. Pika ada anak yang mendapat nilai kognitif rendah, maka orangtua akan memberikan dorongan semangat, seperti, “Ayo besok pasti kamu bisa, coba lagi, coba lagi, jangan putus asa”
  • Kritik santun dan bekerja sama. Orangtua menyampaikan kritik kapad sekolah dengan cara yang santun kebab memahami bah pekerjaan mengajar bukanlah pekerjaan yang ringan. Guru senang menerima kritik kebab menjadi sangat membantunya menyelesaikan permasalahan belajar. Orangtua selalu bekerja sama dengan guru dan sekolah demi keberhasilan anak didik.
  • Kognitif bukan utama. Dengan kondisi negara yang cutup makmur, masyarakat Finlandia tidak menjadikan kemampuan kognitif sebagai hal yang utama. Kemampuan emosional dan problem solving dibutuhkan dalam sekolah dan bekerja. Rapor dan ijazah dalam dunia kerja hanya dipakai sebagi formalitas, sumber daya manusia dihargai kompetensi psikomotorik dan afektif, sedangkan kemampuan kognitif diserahkan kepada sebuah alat hitung dan annalists yang bernama komputer.

Sabtu Pagiku

16/09/2017

Mengawali aktivitas pagi ini walaupun terlambat bangun tidur, saat ikhomad sudah berkumandang dari pengeras suara musholla Ar Furqon di Perumahan Bukit Sawangan Indah, yang membangkitkan semangat dan harapan di hari Sabtu, 16 September 2017. Burung-burung berkicauan bersahutan dari dahan pohon Jambu air di samping rumah selepas pukul lima pagi, menambah hati berbunga mengawali jemari menari di laptop MacBook Air ini setelah menunaikan sholat subuh.

Ada beberapa fokus pikiran di hari Sabtu ini, diantaranya, pertama persiapan anak-anakku tercinta mempersiapkan kegiatan ke sekolah untuk ekstra kurikuler dan bimbingan belajar pada putri pertama dan kedua yang kelas IV dan kelas VI SDIT Darul Muttaqien di Parung, Bogor. Kedua mengingatkan diri dan saudara, bahwa Sabitu sore nanti ada pertemua keluarga di rumah kakak tertua, Bojonggede Bogor. Ketiga, mempersiapkan materi untuk kegiatan pada hari Senin sampai dengan Kamis nanti di PPKKPTKK Jakarta Barat, tepatnya jalan Kerajinan N0.42 Krukut Taman Sari Jakarta Barat.

Bulan ini pula …..

 

Kejanggalan yang harus dibenahi

31/08/2017

Memperhatikan sekian kejanggalan dalam kehidupan di sekitar kita, patutlah kiranya fokus untuk mengukur diri dan mengoreksi perbuatan yang tidak tepat. Gambaran kecil yang sering dijumpai seperti; -ketidakmampuan menjaga kebersihan di lingungannya alias membuang sampah tidak pada tempatnya. -membuang sampah pada lahan milik orang lain, sehingga sering kita jumpai kalimat yang tidak pantas dituliskan “Yang buang sampah di sini hanya anjing” dan sebagainya. -memanfaatkan lahan yang tidak seijin pemilik untuk usaha, atau memanfaatkan lahan umum untuk memperkaya diri seperti trotoar untuk berdagang, menggunakan wilayah saluran air untuk berdagang. -parkir kendaraan tidak pada tempatnya yang berdampak terhadap kelancaran lalu lintas,  dan masih banyak hal lain baik disadari kesalahannya maupun tidak disadari bahkan merasa tidak bersalah.

Begitu pula dengan berbagai berita pada awal bulan Agustus tabun ini, dihebohkan dengan penyimpangan penyelenggara jasa travel umroh terkenal yang mengakibatkan puluhan ribu menjadi korbannya. Bahkan sekian banyak kasus operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK di instants pejabat pengadilan sampai bupati atau walikota, bahkan tidak henti-hentinya penyimpangan narkoba sampai pada perdagangan narkoba internasional.

Contoh kasus OTT dalam bulan ini yakni menjerat Tarmizi, selaku Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Bupati Pamekasan Achmad Syafii, Kepala Kejaksaan Negeri Pamekasan Rudi Indra Prasetya, Kepala Inspektorat Kabupaten Pamekasan Sucipto Utomo, Kepala Desa Dasuk Agus Mulyadi, dan Kepala Bagian Administrasi Inspektorat Kabupaten Pamekasan Noer Solehhoddin, Siti Masitha walikota Tegal, Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Kementerian Perhubungan, Antonius Tonny Budiono.

Dari gambaran di atas bila diperhatikan pada dasarnya adalah bentuk ketidakmampuan seseorang memegang amanah dan kesombongan yang membalut hati sehingga cara berpikirnya tidak sesuai agama yang seharusnya membimbing hidupnya. Jadi jika diperhatikan menurut ukuran ekonomi dari ukuran rendah hingga ukuran tinggi seseorang tidak mampu mengelola amanah, dan munculnya arogansi alias kesombongan yang membelunggu. Sehingga setiap perbuatan yang dilakukan seseorang tidak pernah peduli terhadap orang lain maupun lingkungan yang senantiasa harus dijaga dan dipelihara.

Semoga kemeriahan perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 dapat disertai tumbuh dan berkembangnya kesadaran masyarakat Indonesia yang peduli, serta tumbuh pejuang-pejuang  untuk kesejahteraan dan keadilan serta kemakmuran bangsa dan negara Indonesia tercinta.

Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking ) Jika Diterapkan dalam Penilaian HOTS (Higher Order Thinking Skills) Pelajaran PJOK dan Harapan Dalam Kehidupan Di Masyarakat (2)

12/06/2017

Pada pembelajaran PJOK sebelum diberlakukannya Kurikulum 13 sesungguhnya guru PJOK dapat merancang pembelajaran berpusat pada peserta didik yang aktif. Hal tersebut nampak karena dari hasil proses belajar out put nya diukur ketiga aspek pembelajaran yaitu aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Namun untuk meramu pembelajaran masih belum menerapkan keaktifan peserta didik yang sesungguhnya, jadi peserta didik aktif diinstrusikan oleh guru bukan peserta didik menelaah dan mengaktifkan dirinya untuk bergerak atau belajar. Ini dimungkinkan karena pemilihan gaya mengajar yang masih teacher center bukan student center. Contoh guru memilih gaya mengajar komando yang kadang bergeser ke gaya mengajar latihan. Masih jarang ditemukan dalam strategi pembelajaran guru memilih gaya mengajar timbal balik (reciprocal), inklusi (inclution), penemuan terpandu (guided discovery), bahkan melatih diri (self teaching) seperti yang dikenalkan dalam buku Teaching Styles in Physical Education and Mosston Spectrum oleh Jonathan Doherty, 2008.

Prinsip berpikir tingkat tinggi sesungguhnya sering diterapkan dalam pembelajaran PJOK jika sudah menerapkan konsep dan aplikasi dilaksanakan dalam permainan sesungguhnya baik permaian kecil atau permainan cabang olahraga. Seperti memutuskan strategi bermain, menerapkan langkah-langkah procedural keterampilan, memutuskan tindakan A, B, atau C untuk suatu keberhasilan timnya. Karena bagian-bagian tersebut sesuai pada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut:

  • Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa.
  • Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang studi.
  • Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing.
  • Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered).

Satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam melatih keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif. Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. Proses pembelajaran di kelas PJOK, guru selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam permaian yang lain sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa bertambah banyak.

Pembelajaran yang efektif dari suatu keterampilan memiliki empat komponen, yaitu: identifikasi komponen-komponen prosedural, instruksi dan pemodelan langsung, latihan terbimbing, dan latihan bebas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir adalah bahwa keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak.

Tahapan tersebut adalah:

  1. Identifikasi komponen-komponen prosedural

Siswa diperkenalkan pada keterampilan dan langkah-langkah khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut. Ketika mengajarkan keterampilan berpikir, siswa diperkenalkan pada kerangka berpikir yang digunakan untuk menuntun pemikiran siswa. Contoh konsep berguling ke depan memiliki pola gerak dominan yaitu persiapan, saat berguling, dan gerak akhiran. Begitu pula keterampilan yang lain secara prosedural geraknya harus terkonsep seperti melompat, melempar, memukul, menendang, dan sebagainya. Sehingga dalam belajar gerak / keterampilan setiap individu menurut Fitts dan Posner memiliki tiga tahapan yaitu a. tahap kognitif, b. tahap assosiatif, dan c. tahap automatisasi.

  1. Instruksi dan pemodelan langsung

Selanjutnya, guru memberikan instruksi dan pemodelan secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan yang sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas. Contoh secara automatisasi individu peserta didik berperan sesuai tugasnya dalam permainan bentengan, permainan galasin, permaian sepak bola, permainan kasti, permainan bulutangkis, dan sebagainya.

  1. Latihan terbimbing

Latihan terbimbing seringkali dianggap sebagai instruksi bertingkat seperti sebuah tangga. Tujuan dari latihan terbimbing adalah memberikan bantuan kepada anak agar nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini guru memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan. Contoh : tanpa harus ada instruksi guru, peserta didik dapat melaksanakan permainan dengan menerapkan strategi bermain dan menetapkan tugas dan fungsinya sesuai tanggungjawabnya dalam permainan yang dipilih.

  1. Latihan bebas

Guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah. Jika ketiga langkah pertama telah diajarkan secara efektif, maka diharapkan siswa akan mampu menyelesaikan tugas atau aktivitas ini 95% – 100%. Latihan mandiri tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat melatih keterampilan yang telah diajarkan. Contoh : di luar jam belajar, seperti hari libur atau sesudah jam belajar melakukan kegiatan penguatan keterampilan dalam permainan yang dipilihnya. Atau untuk meningkatkan kebugaran jasmani maka dia berlatih dua sampai tiga kali seminggu seperti unsur-unsur daya tahan paru-jantung, daya tahan otot local, kekuatan, kelincahan, keseimbangan, kecepatan, dan sebagainya.

Bersambung ….

Referensi:

Jonathan Doherty, (2008). Teaching Styles in Physical Education and Moisten Spectrum.

Azhar Arsyad. (2009). Media pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Berpikir Tingkat Tinggi Jika Diterapkan dengan Penilaian Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi pada Pelajaran PJOK dan Dampak di Kehidupan Masyarakat (1)

09/06/2017

Untuk menggunakan penilaian keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill = HOTS) dalam pembelajaran maka seyogyanya dalam sebuah proses pembelajaran pun harus dilakukan dengan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking = HOT). Hal ini memberikan dampak terhadap peserta didik terbiasa dalam sebuah pola berpikir yang HOT, sehingga bila cara mengukur keberhasilan belajarnya menggunakan HOTS (higher order thinking skills) peserta didik tidak terjerembab dalam kondisi yang tak terduga namun sudah dipersiapkan untuk menghadapi situasi psikologis yang terkondisikan (siap, samapta, nyaman dalam kondisinya).

Berpikir Tingkat Tinggi dimungkinkan ketika seseorang mengambil informasi baru dan informasi yang tersimpan dalam memori dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan  atau menemukan jawaban yang mungkin dalam situasi membingungkan. Dalam proses belajar kognitif akan menghubungkan dengan taksonomi Bloom berdasarkan Anderson & Kartwohl pada tingkat lebih rendah yaitu mengingat, memahami, menerapkan/mengaplikasi. Sedangkan pada tingkat lebih tinggi yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi.

Klasifikasi kata kerja operasional yang diterapkan dalam kategori taksonomi Bloom dalam berpikir tingkat lebih tinggi (HOT) pada tingkat menganalisis antara lain: Menganalisa; Menilai; Mengkalkulasi; Mengkategorikan; Membandingkan; Menyimpulkan; Mengkontraskan; Mendeduksi; Membedakan; Memisahkan; Mengambil/Membuat simpulan; Menginterpretasi; Menguji; Merumuskan; Memprediksi. Pada tingkat mengevaluasi antara lain: Menilai (+pertimbangan); Menguji; Memilih; Mengkritik; Mengevaluasi; Memutuskan; Meratingkan ; Memberi nilai. Sedangkan pada tingkat mengkreasi antara lain: Mengabstraksi; Mengatur; Menganimasi; Mengumpulkan; Mengkategorikan; Mengkode; Mengkombinasikan; Menyusun; Mengarang; Membangun; Menanggulangi; Menghubungkan; Menciptakan; Mengkreasikan; Mengoreksi; Merancang; Merencanakan; Mendikte; Meningkatkan; Memperjelas; Memfasilitasi; Membentuk; Merumuskan; Menggeneralisasi; Menggabungkan; Memadukan; Membatas; Mereparasi; Menampilkan; Menyiapkan; Memproduksi; Merangkum; Merekonstruksi; Membuat.

Dimensi Proses Kognitif
 (Anderson & Krathwohl, 2001)

Kategori/ proses kognitif

Definisi

Ingatan Mengambil pengetahuan yang relevan dari ingatan jangka-panjang
Pemahaman Membangun arti dari proses pembelajaran, termasuk komunikasi lisan, tertulis, dan gambar
Aplikasi Melakukan atau menggunakan prosedur di dalam situasi yang tidak biasa
Analisis Memecah materi ke dalam bagian-bagiannya dan menentukan bagaimana bagian-bagian itu terhubungkan antarbagian dan ke struktur atau tujuan keseluruhan
Evaluasi Membuat pertimbangan berdasarkan kriteria atau standar
Kreasi Menempatkan unsur-unsur secara bersama-sama untuk membentuk keseluruhan secara koheren atau fungsional; menyusun kembali unsur-unsur ke dalam pola atau struktur baru

 

Arti keterampilan berpikir

Apakah higher order thinking? Berpikir tingkat tinggi (Higher-order thinking =HOT) dimaknai sebagai ingatan atau pengetahuan diperkecil dan melakukan pembelajaran yang penekanannya pada unsur:

  • Mentransfer dari satu konteks ke konteks lain
  • Memproses dan menerapkan informasi
  • Melihat hubungan antara informasi yang berbeda
  • Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
  • Menguji gagasan dan informasi secara kritis
  • Higher-order thinking menunjukkan pemahaman terhadap informasi dan bernalar (reasoning) bukan hanya sekedar mengingat informasi.
  • Kita tidak menguji ingatan, sehingga kadang-kadang perlu untuk menyediakan informasi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dan siswa menunjukkan pemahaman terhadap gagasan dan informasi dan/atau memanipulasi atau menggunakan informasi tersebut.

Keterampilan berpikir didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan. Dalam mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan, pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah-langkah: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir.

Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (higher order thinking), berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking). Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory. Berpikir kompleks Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik. adalah proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian.

Kemampuan berpikir merupakan proses keterampilan yang bisa dilatihkan, artinya dengan menciptakan suasana pembelajaran yang kondunsif  akan merangsang siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir. inilah peran guru untuk mencari metode dan strategi pembelajaran yang dampaknya dapat menigkatkan kemampuan berpikir siswa.

Peluang penilaian HOTS dalam PJOK

Pada proses pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) sebenarnya sebagian guru sudah meninggalkan terlalu dominannya guru (teacher center) berpindah ke peran peserta didik (student center). Inilah modal besar yang membantu peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi, sehingga dalam penilaian juga memungkinkan untuk menggunakan penilaian keterampilan berpikir tingkat tinggi. Namun masih banyak pula guru PJOK menerapkan metode dan strategi pembelajaran yang lebih didominasi guru (teacher center), karena kebiasaan gaya  mengajar  yang lama yaitu dengan mengajar menggunakan gaya komando. Beberapa gaya mengajar dengan peran siswa aktif antara lain: gaya latihan (practise), gaya mengajar timbal balik (reciprocal), gaya mengajar periksa diri (selfcheck) , gaya mengajar inkusi (inclution), gaya mengajar penemuan terpandu (guided discovery), gaya mengajar penemuan terbuka (convergen), gaya mengajar penemuan mandiri (divergen), dan gaya mengajar lainnya.

Jika diperhatikan/dihubungkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita bagian negara Indonesia tercinta, berpikir tingkat tinggi masih minim diterapkan dalam kehidupan.

Contoh:

  • Rendahnya ketaatan disiplin berlalu-lintas: penggunaan marka jalan dan lampu lalu lintas masih rendah, sehingga tertib bukan kebutuhan karena selalu berpikir “yang penting menguntungkan saya” dan tidak pernah berpikir “bagaimana dampak perbuatan saya merugikan bagi orang lain”.
  • Rendahnya kesadaran terhadap keselamatan berkendara (safety riders)  di jalan: penggunaan alat pengaman mengendarai motor di jalan raya, seperti helm, sepatu, jaket, sarung tangan, dan alat pelindung lainnya. Bahkan tidak pernah terpikirkan “akibat kelalaian saya, orang lain akan celaka”. contoh: ugal-ugalan di jalan, tidak menggunakan tanda-tanda isyarat kendaraan dalam berlalu-lintas, dsb.
  • Rendahnya kesadaran terhadap keselamatan bekerja (safety work): tukang bangunan dalam bekerja masih minim menggunakan pelindung tubuh (helm proyek, pakaian kerja proyek, sarung tangan, sepatu boot).
  • Rendahnya kesadaran terhadap ketertiban: penjual dan pembeli bertransaksi di tempat yang illegal (di trotoar, di tepi jalan, di persimpangan lampu PIL dan lain-lain). Memarkir kendaraan sembarangan (angkot ngetem sembarangan, parkir di lokasi larangan parkir, dsb).
  • Rendahnya kesadaran terhadap kebersihan dan keindahan lingkungan: membuang sampah sembangan; pengelolaan pembuangan sampah lingkungan belum terintegrasi, pengelolaan pengolahan sampah akhir belum produktif.
  • Rendahnya kesadaran terhadap kewaspadaan dan antisipasi kejadian: Jarang dilakukan simulasi bencana dan bahaya alam, bencana kebakaran, bencana gempa dan sebagainya.
  • Rendahnya kesadaran terhadap antisipasi keadaan lain dalam kehidupan: latihan simulasi keluarga hidup di alam terbuka (hidup di pengungsian, camping, berpetualang, dan sebagainya).

Pada pembelajaran dengan berpikir tingkat tinggi di PJOK terutama memilih permainan (tradisional maupun olahraga) sebenarnya sudah terdapat unsur-unsur berpikir tingkat tinggi. Contoh:

  • simulasi berbagas permainan kecil,
  • menerapkan strategi bermain (strategi permainan 1, strategi permainan 2, strategi permainan 3) , strategi individu dalam permainan,
  • menerapkan langkah proses gerak dominan (PGD) dalam keterampilan berguling, melempar, lompat dan loncat, memukul, menerapkan keterampilan atau teknik bermain voli,
  • menerapkan keterampilan atau teknik bermain sepakbola,
  • menerapkan keterampilan atau teknik bermain kasti,
  • menerapkan keterampilan atau teknik bermain rounders,
  • menerapkan keterampilan bermain galasin, dan sebagainya.

Hal tersebut di atas tidak terpisah dari: a. mentransfer dari satu konteks ke konteks lain; b. memproses dan menerapkan informasi; c. melihat hubungan antara informasi yang berbeda; d. menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah; e. menguji gagasan dan informasi secara kritis.

(Bersambung)

Reference:

Materi Pengembangan Instrumen Penilaian, BIMTEK PKB Guru Garis Depan, Ditjen GTK Kemdikbud 2016.

Materi Pengembangan Soal USBN, Penyegaran NS PKB, Ditjen GTK Kemdikbud 2017.

http://idarianawaty.blogspot.co.id/2011/08/berpikir-tingkat-tinggi-higher-order.html