Skip to content

Paradigma orangtua dalam pendidikan di Finlandia

29/09/2017

Membuka-buka lagi buku “Gurunya manusia” oleh Munib Chatib yang saya beli di toko buku besar di kawasan jalan Margonda Kota Depok awal talun 2012, ada suatu hal yang patut diperhatikan sebagai orangtua dalam mendidiknya. Maka kolaborasi orang tua dan guru di sekolah merupakan salah satu daya dukung terhadap keberhasilan anak dalam belajar.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai orangtua untuk merubah paradigma lama. Paradigma orangtua, guru dan orangtua yang telah menjadi sahabat sejati di negara Finlandia.

  • Penghormatan terhadap guru dan sekolah. Orangtua sancta menghormati guru dan sekolah. Mereka menganggap guru adalah orangtua kedua dan sekolah adalah rumah kedua. Sekolah bukan tempat yang menyeramkan, penyebab tekanan båtin, dan ketegangan. Dengan seluruh daya dan upaya, para guru berusahan memahami kondis intelektual dan emosi siswa, bahkan sampai ke hal-hal keil.
  • Mengajar adalah pekerjaan rumit. Orangtua memehami bahwa pekerjaan mengajar adalah pekerjaan yang kimpleks dan penh dinakika sehingga perlu didukung dalam semua aspek. Apabilaguru mengalami kesulitan mengajar kepada seorang siswa, orangtua mereka akan membantu semaksimal mungkin. Bukan sebaliknya, ketika siswa belum tuntas dalam belajar, orangtua malah menyalahkan gurunya.
  • Guru itu pahlawan. Orangtua menganggap guru adalah pahlawan kesuksesan anak mereka. Pemandangan yang sering terlihat, banyak siswa menghias dan memajang foto di kamarnya, bakhan dengan diberi tambahan kalimat, “You are my inspirationa“. Tidak ada lagi guru killer.
  • Mementingkan proses. Orangtua cenderung tidak terlaulu peduli tehadap asilo belajar ana, tapi mereka lebih peduli terhadap proses belajar anak. Setiap usaha anak selalu mendapatkan apresiasi dari orangtua, apa pun hasilnya. Pika ada anak yang mendapat nilai kognitif rendah, maka orangtua akan memberikan dorongan semangat, seperti, “Ayo besok pasti kamu bisa, coba lagi, coba lagi, jangan putus asa”
  • Kritik santun dan bekerja sama. Orangtua menyampaikan kritik kapad sekolah dengan cara yang santun kebab memahami bah pekerjaan mengajar bukanlah pekerjaan yang ringan. Guru senang menerima kritik kebab menjadi sangat membantunya menyelesaikan permasalahan belajar. Orangtua selalu bekerja sama dengan guru dan sekolah demi keberhasilan anak didik.
  • Kognitif bukan utama. Dengan kondisi negara yang cutup makmur, masyarakat Finlandia tidak menjadikan kemampuan kognitif sebagai hal yang utama. Kemampuan emosional dan problem solving dibutuhkan dalam sekolah dan bekerja. Rapor dan ijazah dalam dunia kerja hanya dipakai sebagi formalitas, sumber daya manusia dihargai kompetensi psikomotorik dan afektif, sedangkan kemampuan kognitif diserahkan kepada sebuah alat hitung dan annalists yang bernama komputer.
Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: