Skip to content

Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking ) Jika Diterapkan dalam Penilaian HOTS (Higher Order Thinking Skills) Pelajaran PJOK dan Harapan Dalam Kehidupan Di Masyarakat (2)

12/06/2017

Pada pembelajaran PJOK sebelum diberlakukannya Kurikulum 13 sesungguhnya guru PJOK dapat merancang pembelajaran berpusat pada peserta didik yang aktif. Hal tersebut nampak karena dari hasil proses belajar out put nya diukur ketiga aspek pembelajaran yaitu aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Namun untuk meramu pembelajaran masih belum menerapkan keaktifan peserta didik yang sesungguhnya, jadi peserta didik aktif diinstrusikan oleh guru bukan peserta didik menelaah dan mengaktifkan dirinya untuk bergerak atau belajar. Ini dimungkinkan karena pemilihan gaya mengajar yang masih teacher center bukan student center. Contoh guru memilih gaya mengajar komando yang kadang bergeser ke gaya mengajar latihan. Masih jarang ditemukan dalam strategi pembelajaran guru memilih gaya mengajar timbal balik (reciprocal), inklusi (inclution), penemuan terpandu (guided discovery), bahkan melatih diri (self teaching) seperti yang dikenalkan dalam buku Teaching Styles in Physical Education and Mosston Spectrum oleh Jonathan Doherty, 2008.

Prinsip berpikir tingkat tinggi sesungguhnya sering diterapkan dalam pembelajaran PJOK jika sudah menerapkan konsep dan aplikasi dilaksanakan dalam permainan sesungguhnya baik permaian kecil atau permainan cabang olahraga. Seperti memutuskan strategi bermain, menerapkan langkah-langkah procedural keterampilan, memutuskan tindakan A, B, atau C untuk suatu keberhasilan timnya. Karena bagian-bagian tersebut sesuai pada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut:

  • Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa.
  • Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang studi.
  • Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing.
  • Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered).

Satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam melatih keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif. Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. Proses pembelajaran di kelas PJOK, guru selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam permaian yang lain sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa bertambah banyak.

Pembelajaran yang efektif dari suatu keterampilan memiliki empat komponen, yaitu: identifikasi komponen-komponen prosedural, instruksi dan pemodelan langsung, latihan terbimbing, dan latihan bebas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir adalah bahwa keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak.

Tahapan tersebut adalah:

  1. Identifikasi komponen-komponen prosedural

Siswa diperkenalkan pada keterampilan dan langkah-langkah khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut. Ketika mengajarkan keterampilan berpikir, siswa diperkenalkan pada kerangka berpikir yang digunakan untuk menuntun pemikiran siswa. Contoh konsep berguling ke depan memiliki pola gerak dominan yaitu persiapan, saat berguling, dan gerak akhiran. Begitu pula keterampilan yang lain secara prosedural geraknya harus terkonsep seperti melompat, melempar, memukul, menendang, dan sebagainya. Sehingga dalam belajar gerak / keterampilan setiap individu menurut Fitts dan Posner memiliki tiga tahapan yaitu a. tahap kognitif, b. tahap assosiatif, dan c. tahap automatisasi.

  1. Instruksi dan pemodelan langsung

Selanjutnya, guru memberikan instruksi dan pemodelan secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan yang sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas. Contoh secara automatisasi individu peserta didik berperan sesuai tugasnya dalam permainan bentengan, permainan galasin, permaian sepak bola, permainan kasti, permainan bulutangkis, dan sebagainya.

  1. Latihan terbimbing

Latihan terbimbing seringkali dianggap sebagai instruksi bertingkat seperti sebuah tangga. Tujuan dari latihan terbimbing adalah memberikan bantuan kepada anak agar nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini guru memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan. Contoh : tanpa harus ada instruksi guru, peserta didik dapat melaksanakan permainan dengan menerapkan strategi bermain dan menetapkan tugas dan fungsinya sesuai tanggungjawabnya dalam permainan yang dipilih.

  1. Latihan bebas

Guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah. Jika ketiga langkah pertama telah diajarkan secara efektif, maka diharapkan siswa akan mampu menyelesaikan tugas atau aktivitas ini 95% – 100%. Latihan mandiri tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat melatih keterampilan yang telah diajarkan. Contoh : di luar jam belajar, seperti hari libur atau sesudah jam belajar melakukan kegiatan penguatan keterampilan dalam permainan yang dipilihnya. Atau untuk meningkatkan kebugaran jasmani maka dia berlatih dua sampai tiga kali seminggu seperti unsur-unsur daya tahan paru-jantung, daya tahan otot local, kekuatan, kelincahan, keseimbangan, kecepatan, dan sebagainya.

Bersambung ….

Referensi:

Jonathan Doherty, (2008). Teaching Styles in Physical Education and Moisten Spectrum.

Azhar Arsyad. (2009). Media pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: