Skip to content

MANFAAT DALAM PENGEMBANGAN KECAKAPAN SOSIAL

27/02/2015

A. Perkembangan Sosialisasi Peserta Didik

Perkembangan sosial anak dengan memiliki kecerdasan intrapersonal dan interpersonal akan membantu individu anak dalam menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya, lingkungan, dan masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat membantu individu untuk mengembangkan dirinya baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Hal ini dilakukan agar peserta didik belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati dan betanggung jawab.

1. Sosialisasi Masa Anak Kecil

Salah satu tugas perkembangan masa anak kecil yang penting adalah memperoleh latihan dan pengalaman pendahuluan yang diperlukan untuk menjadi anggota “kelompok” dalam masa anak besar. Sehingga pada anak kecil ini sering disebut sebagai masa “prakelompok”. Dasar untuk sosialisasi diletakkan dengan meningkatnya hubungan antara anak dengan teman-teman sebayanya dari tahun ke tahun. Dalam perkembangan selanjutnya anak tidak hanya pandai bermain dengan anak-anak lain tetapi juga lebih banyak berbicara. Jenis hubungan sosial lebih penting dari pada jumlahnya. Kalau anak senang berhubungan dengan orang lain, meskipun jarang, maka sikap terhadap kontak social mendatangkan lebih baik daripada hubungan social yang sering tetapi sifat hubungannya kurang baik. Anak yang lebih menyukai interaksi dengan manuasia daripada hubungan social, sehingga mereka lebih popular dari pada anak yang interaksi sosialnya terbatas. Manfaat yang diperoleh anak dengan diberikannya kesempatan untuk berhubungan social akan sangat dipengaruhi oleh tingkat kematangan hubungan sosial sebelumnya. Secara umum pada periode ini anak lebih menyukai kontak social sejenis dari pada hubungan sosial dengan kelompok jenis kelamin yang berlawanan.

a. Pola Sosialisasi Awal

Pada usia antara dua dan tiga tahun, anak menunjukkan minat untuk melihat anak-anak lain dan berusaha mengadakan kontak sosial dengan mereka. Hal ini dikenal dengan “bermain sejajar”, yaitu bermain sendiri-sendiri, tidak bermain dengan anak-anak lain. Jika terjadi kontak, maka kontak ini cenderung bersifat perkelahian, bukan kerja sama. Bermain sejajar merupakan bentuk kegiatan social yang pertama-tama dilakukan dengan teman sebaya. Perkembangan berikutnya adalah “bermain asosiatif”, dalam hal ini anak terlibat dengan kegiatan yang menyerupai kegiatan anak-anak lain. Semakin meningkatnya kontak social, anak terlibat alam “bermain kooperatif” pada saat itu anak menjadi anggota kelompok dan saling beriteraksi. Anak walaupun sudah mulai bermain dengan anak lain, ia masih sering berperan sebagai penonton, mengamati anak lain bermain, tetapi tidak berusaha benar-benar bermain dengannya. Dengan cara mengamati anak muda belia belajar bagaimana anak lain mengadakan kontak social dan bagaimana perilakunya dalam berbagai situasi social. Jika anak berusia empat tahun telah mempunyai pengalaman sosialisasi pendahuluan, biasanya ia mengerti dasar-dasar permainan kelompok, sadar akan pendapat orang lain dan berusah memperoleh perhatian dengan cara berlagak, menonjolkan diri. Pada tahun-tahun selanjutnya ia memperhalus perilaku sosialnya dan memperlajari pola perilaku baru yang lebih dapat diterima oleh kelompok teman-temannya.

b. Bentuk Perilaku Awal dalam Berbagai Situasi Sosial

Pada tahun-tahun pertama masa kanak-kanak bentuk penyesuaian sosial ini belum sedemikian berkembang sehingga belum memungkinkan anak selalu untuk berhasil dalam bergaul dengan teman-temannya. Hal demikian juga pada periode ini merupakan tahap perkembangan yang kritis, karena pada masa inilah dasar sikap social dan pola perilaku social dibentuk.

c. Pola Sosial

Pola yang terbentuk pada usia anak kecil menurut Husdarta dan Kusmaedi (2010) antara lain:

Meniru. Agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku orang yang sangat ia kagumi.

Persaingan. Keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang lain sudah tampak pada usia empat tahun. Hal ini nampak saat di rumah dan berkembang saat di luar rumah.

Simpati. Simpati membutuhkan pengertian tentang perasaan-perasaan dan emosi orang lain, maka hal ini hanya kadang timbul sebelum tiga tahun. Semakin banyak kontak bermain, semakin cepat simapti akan berkembang.

Empati. Seperti halnya simpati, empati membutuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi orang lain tetapi disamping itu juga membutuhkan kemampuan untuk membanyangkan diri sendiri di tempat orang lain. Relative hanya sedikit anak yang dapat melakukan hal ini sampai masa anak kecil berakhir.

Dukungan sosial. Menjelang berakhirnya masa anak kecil, dukungan dari teman-teman menjadi lebih penting daripada persetujuan orang dewasa. Anak beranggapan bahwa perilaku nakal dan perilaku mengganggu merupakan cara untuk memperoleh dukungan dari teman sebaya.

Membagi. Dari pengalaman bersama orang lain, anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh persetujuan social adalah membagi miliknya, terutama mainan untuk anak-anak lain. Sifat mementingkan diri sendiri lambat laun berubah menjadi sifat murah hati.

Perilaku akrab. Anak yang pada waktu bayi memperoleh kepuasan dari hubungan yang hangat, erat dan personal dengan orang lain berangsur-angsur memberikan kasih sayang kepada orang di luar rumah.

d. Pola Tidak Sosial

Negativisme. Negativisme atau melawan otoritas orang dewasa, mencapi puncaknya antara usia tiga dan empat tahun dan kemudian menurun. Perlawanan fisik lambat laun berubah menjadi perlawanan verbal dan pura-pura tidak mendengan atau tidak mengerti permintaan orang dewasa.

Agresif. Perilaku agresif meningkat antara usia dua dan empat tahun dan kemudian menurun. Serangan-serangan fisik mulai diganti dengan serangan-serangan verbal dalam bentuk memaki-maki atau menyalahkan orang lain.

Perilaku berkuasa. Perilaku berkuasa atau merajai mulai usia sekitar tiga tahun, dan semakin meningkat dengan semakin bertambah banyaknya kesempatan untuk kontak social. Anak permpuan cenderung lebih merajai dari pada anak laki-laki.

Memikirkan diri sendiri. Karena cakrawala social anak terutama terbatas di rumah, maka anak seringkali memikirkan dan mementingkan diri dirinya sendiri. Dengan meluasnya cakrawal lambat laun perilaku memikirkan diri sendiri berkurang, namun perilaku murah hati masih sangat sedikit. Perubahan yang cepat ini tergantung pada banyaknya kontak dengan orang lain di luar rumah dan berapa besar mereka untuk diterima oleh teman-teman.

Merusak. Ledakan amarah yang sering disertai dengan tindakan merusak benda-benda di sekitarnya, baik miliknya atau bukan. Semakin hebatg amarahnya, semakin luas tindakan merusaknya.

Perkembangan seks. Sampai usia empat tahun anak laki-laki dan perempuan bermain bersama-sama dengan baik setelah itu anak laki-laki mengalami tekanan social yang tidak menghendaki aktivitas bermain yang dianggap sebagai “band. Banyak anak laki-laki berperilaku agresif yang melawan anak perempuan.

Prasangka. Dengan suka bermain dengan teman-teman yang berasal dari ras yang sama pada sebagian besar anak prasekolah, namun mereka jarang menolak bermain dengan anak-anak dari ras lain. Prasangka social timbu pertama-tama dri prasangka agama atau social ekonomi, tetapi lebih lambat dari prasangka seks. Kebanyakan pola-pola ini kelihatannya tidak social atau bahkan anti social. Namun pola-pola ini dibutuhkan guna sebagai pengalaman belajar yang memungkinkan anak mengerti apa yang disetujui dan tidak disetujui oleh kelompok social serta apay yang dapat diterima dan tidak dapat diterima oleh kelompoknya.

2. Sosialisasi Masa Anak Besar

Masa yang sering disebut dengan “usia berkelompok” ini ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya. Pada masa anak besar ini mereka tidak puas jika hanya bermain di rumah, anak ingin bersama teman-temannya dan akan merasa kesepian jika tidak bersama bergabung dengan teman-temannya. Bahkan merupakan kebanggaan jika kelompok temannya merupakan kelompok besar, dengan demikian dengan adanya bermain dalam kelompok besar seperti bermain pada cabang olahraga, seperti futsal pada anak-anak laki-laki dan dance pada anak perempuan, yang penting dapat memberikan suasana berbeda dan kegembiraan. Sejak anak masuk sekolah sampai masa puber, keinginan untuk bersama dan untuk diterima kelompok menjadi semakin kuat. Hal ini berlaku baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan.

Teman pada Masa Anak Besar

Seperti pada masa anak kecil, teman pada masa anak besar terdiri dari rekan, teman bermain atau teman baik. Berbeda denga masa anaak-anak yang lebih muda, anak yang lebih besar jarang puas dengan rekannya. Untuk memenuhi kebutuhan sosialnya, peran teman yang baik sangat diharapkan. Meskipun anak mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa anggota kelompok tertentu, namun sering dianggap semua anggota kelompok sebagai “teman” walaupun ia juga sebagai teman bermain. Kecenderungan anak laki-laki mempunyai hubungan teman sebaya yang lebih luas dari pada anak perempuan, ia lebih suka bermain berkelompok dari pada hanya dengan satu atau dua teman. Sebaliknya hubungan social anak perempuan lebih intensif, dalam arti ia lebih sering bermain dengan satu atau dua temannya dari pada dengan kelompok.

Berbagai faktor yang menentukan pemilihan teman. Biasanya yang dipilih adalah yang dianggap setipe dengan dirinya dan memenuhi harapannya. Faktor daya tarik fisik mempengaruhi kesan awal, sehingga anak cenderung memilih mereka yang berpenampilan menarik untuk menjadi teman bermain atau sebagai teman baik. Ada kecenderungan yang kuat bagi anak untuk memilih teman dari kelasnya sendiri di sekolah, dan kebanyakan yang sejenis dari pada lawan jenisnya. Menjelang masa kanak-kanak berakhir, masa anak besar lebih menyukai teman dari latar belakang social, ekonomi, ras, dan agama yang sama, khususnya sebagai teman baik.

  1. Sosialisasi masa remaja.

Tugas yang penting dalam perkembangan masa remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dimana masa sebelumnya belum menjadi fokusnya dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Agar tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus banyak penyesuaian baru.

Gambar : Ilustrasi penyesuain diri pada remaja

gamSumber: http://buruhmigran.or.id/2012/07/09/melibatkan-blogger-bicara-wirausaha-tki/

Beberapa hal yang penting dan tersulit pada perkembangan social masa remaja adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru dalam seleksi pemimpin.

B. Faktor-faktor Yang Membentuk Perilaku Sosial

Perilaku social ini identik dengan reaksi sosial dari seseorang terhadap orang lain. Reaksi itu dinyatakan dalam tindakan, perasaan, keyakinan, kenangan, atau rasa hormat terhadap orang lain, Baron & Bryrne dalam Rusli Ibrahim (2001). Lebih lanjut Baron & Bryrne mengelompokkan perilaku social seseorang dalam empat katagori:

(1) Perilaku dan karakteristik orang lain; Misalnya jika seseorang biasa bergaul dengan orang-orang yang penyabar, ada kemungkinan, sedikit banyak ia akan terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya itu. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang berteman dengan orang-orang yang suka merusak barang milik orang, maka ada kecenderungan ia akan terpengaruh oleh perilaku social semacam itu.

(2) Proses Kognitif; Ingatan dan pikiran yang mendasari kesadaran social sesorang, termasuk, keyakinan, ide, dan pertimbangannya tentang orang lain berpengaruh tehadap perilaku sosialnya. Misalnya, seseorang yang tekun dengan cara apa saja dalam upaya meraih kemenangan, maka ia akan cendertung berperilaku social seperti itu. Pikiran dan keyakinannya telah terbentuk, untuk mempengaruhi perilaku sosialnya.

(3) Faktor lingkungan (berpengaruh langsung dan tidak langsung dari lingkungan fisik). Lingkunangan alam, kadang kala dapat mempengaruhi perilaku social seseorang yang sulit diterima oleh kelompok etnis tertentu. Misalnya seseorang yang berasal dari daerah pelosok terpencil yang biasa berbicara keras dan kasar, tentu berperilaku social yang terasa kasar, ketika berada dalam lingkungan masyarakat yang terbiasa halus dan lembut.

(4) Tata latar budaya sebagai tempat perilaku dan pemikiran social itu terjadi: Misalnya, perilaku social seseorang yang berasal dari etnis budaya tertentu mungkin akan terasa aneh atau kurang diterima, ketika ia berada dalam masyarakat yang memiliki budaya lain. Jadi, konteks budaya amat mempengaruhi kecenderungan perilaku social seseorang.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: