Skip to content

Wira-wiri kali ini ke Jambi

10/11/2013

Agak terlambat mempublish tulisan ini, sehubungan wifi di hotel kurang bagus, pulsa modem belum diisi waluapun sudah pesan melalui sms teman langganan di kantor tapi sudah larut malam alias dini hari sehingga belum terisi juga.

Wira-wiri kali ini (8/11) akan menuju ke Propinsi Jambi, maka menyerahkan diri pada sang Pemilik Kuasa alat yang membawa tubuh ini dengan kendaraan bandara Soetta yaitu bus Damri dari terminal Lebak Bulus menuju terminal 2 F di Cengkareng. Dilanjutkan dengan terbang bersama si burung besi maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia. Sebelumnya pagi hari harus menemani istri ke sebuah bank di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan, tepatnya di komplek gedung Sony Ericson. Setelah menyelesaikan berbagai urusan akhirnya menuju ke tempat kerja istri di kawasan Jl. Simatupang No. 22 di seberang pusat perbelanjaan Cilandak Town Square (CITOS).

Bertepatan dengan hari Jum’at walaupun check in sekitar pukul 14;00 wib, tanpa mengambil resiko bila sholat jum’at tidak dikawasan bandara, maka dua jam sebelum adzan waktu dluhur bersama armada Damri direngkuhlah tubuh bersamanya. Siang ini penumpang cukup agak penuh oleh karena aku pilih tempat duduk di sebelah kiri depan pintu belakang. Kekawatiran pada hal-hal yang menghambat bila berangkat setelah sholat jum’at terbukti karena setelah memasuki kawasan palmerah sampai di Slipi hujan deras dan perjalanan agak lambat karena padatnya kendaraan.

Sekitar satu setengah jam lebih awak kendaraan menginformasikan bahwa terminal 2 F segera tiba, maka segera menuju ke pintu dekat sopir. Keputusan untuk segera menuju ke masjid agar tidak ketinggalan rukunnya sholat jum’at harus segera dicapai. Sholat jum’at sudah, makan siang sudah, akhirnya segera mendekati ruang tunggu di F 2 seperti yang tertera di tiket masuk pesawat. Agak lama menunggu boarding ke pesat karena terlalu awal check in, akhirnya satu demi satu rekan dan team kerja satu demi satu bersama di ruang tunggu yang berjumlah enam orang.

Agaknya cuaca yang sejak berangkat agak buruk berdampak pula secara teknis boarding pun diumumkan ditunda sekitar 20 menit (dalam hati pasti praktiknya lebih dari itu, walau baru kali ini boarding mundur dengan maskapai ini). Apa yang diperkirakan benar cuaca mendung gelap dan hujan deras akhirnya dipersilahkan masuk pesawat setelah pukul 16.30 wib. Mamasuki pesawat sebagaimana pada tiket boarding menggunakan seat 31 H dengan kode penerbangan GA134, seperti biasa saat check in untuk memilih tempat duduk dekat dengan pintu emergency. Walaupun duduk di lorong bukan dekat kaca sisi kanan, hal itu lebih nyaman dari pada di ekor badan pesawat untuk penumpat kelas ekonomi. Akhirnya mendekati pukul 17.00 wib si burung besi pun meninggalkan landasan pacu di bandara Soekarno-Hatta (CGK).

Setelah sekian waktu baca-baca koran, menikmati snack bersama minuman, dan membaca media lainnya (majalah; Ipad), maka sepuluh menit menjelang pukul 18;00 wib pilot menginformasikan bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara Sultan Toha di Jambi. Untuk kesekian kali ke Jambi selalu was- was jika mendaratnya pesawat, karena landasan pendek sering terasa hentakan keras apalagi setelah hujan. Setelah ban pesawat menyentuh landasan dengan deru gaya gesek ban serta sedikit hambatan sayap mengembang untuk memperlambat laju pesawat di aspal, maka sekitar pukul 18;00 wib berbelok untuk berhenti di tempat parkir.

Berhubung mobil jemputan yang dipesan ke rekan yang sudah dari pagi tiba di hotel, ternyata tidak bisa memberikan fasilitas penjemputan menuju hotel yang akhirnya memutuskan untuk mencarter armada kendaraan niaga Av**za produknya To**ta. Akhirnya menjelang pukul 19;00 wib kami sudah masuk ke kamar 38 di hotel Royal Garden Resort di jalan Marsda Surya Dharma Kota Baru Jambi.

Bila sesuai rencana  seharusnya dua jam lebih awal sudah rileks, maka setelah membersihkan diri dan sholat isya’ segera mempersiapkan diri untuk masuk di ball room meeting yang terlambat lima menit. Salam dan kata pembuka pertemuan, pastinya permintaan maaf atas keterlambatan. Pembiasaan maaf atas tanggung jawab karena tidak tepat waktu walaupun 5 menit memberikan inspirasi agar audience pun akan menyebarkan virus nilai-nilai sikap yaitu keterbukaan, jujur dan tanggung jawab selalu tertanam pada audience yang berkecimpung sebagai pembimbing pendidik akan menyebar sampai tataran di peserta didik. Walaupun masih banyak peserta yang juga mengalami keterlambatan kadang-kadang dianggap biasa. Semoga … dan tetap optimis untuk sebuah perubahan yang lebih baik, agar keteraturan lebih teratur tanpa alat pengatur dengan masing-masing individu mampu saling mengatur diri. Amin Ya Mujibas Saaiib.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: