Skip to content

Wira-Wiri kali ini ke kota Palembang

10/10/2013

Alat penunjuk waktu di pergelangan tangan menunjukkan pukul 08;30 wib menjelang pesawat dengan kode GA0102 mendarat di bandara Sultan Mahmut Badarudin II Rabu pagi (9/10).  Hampir enam tahun terakhir setiap tahun paling tidak dalam setahun sekali waktu menapakkan kaki di pintu udara provinsi Sumatera Selatan atau sering disebut bumi Sriwijaya, ini merupakan kedua kalinya aktivitas yang sepenuhnya dilakukan di kota Palembang. Karena sejak pertama kali datang di bandara ini langsung menuju konter TRAC yaitu rental a car untuk melanjutkan perjalanan ke luar kota yang menempuh waktu 2 jam lebih. Sedangkan kali ini keluar bandara bus Transmusi sebagai pilihan melanjutkan perjalanan karena hanya menuju dalam kota. berbeda dengan tahun lalu, pembayaran masih menggunakan pembayaran tunai, kali ini sudah menggunakan kartu elektrik sehingga jika ingin menggunakan lagi jika saldonya kurang maka harus mengisi vouchernya kembali.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan transit di halte sebanyak tiga kali, akhirnya tiba di halte Xaverius di kawasan Bukit Kecil kota Palembang yaitu tepatnya di jalan DR. Wahidin nomor 3. Menjelang jam istirahat siang memasuki kantor tersebut karena ada beberapa yang harus dipersiapkan, akhirnya menghadap Kasi Kurikulum Pendidikan Dasar bapak Drs. Nursyamsu, MM. Hari pertama sudah melewati istirahat siang maka dengan diantarkan beliau dan sopirnya menuju SMPN 26 Kota Palembang dan dilanjutkan ke SMAN 17 kota Palembang. semoga lima responden guru Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling bisa bertemu dari delapan resposnden. Setelah tuntas menyelesaikan dan berpamitan untuk esok hari datang lagi mengambil hasil tugas, maka bersama guru Penjas SMPN 26 bapak David  menuju SMAN 17 Kota Palembang. (ternyata kakak senior angkatan waktu di IKIP Jakarta) selisih tujuh tahun asli Jakarta Timur tepatnya dekat terminal Rawamangun).

Sekitar pukul 16.30 wib dengan diantarkan bapak David akhirnya tiba di hotel Anida tempat menginap, yang berada dekat persimpangan Sekip jalan Basuki Rahmat. setelah membersihkan tubuh, maka menjelang waktu sholat segeralah kaki melangkah ke masjid. Tertera masjid Al Falah sebuah masjid yang memiliki ciri khas pada masa Presiden Soeharto berkuasa  cukup besar dan sejuk karena AC yang terpasang cukup mendinginkan jamaah sekitar lima baris bersama jamaah putri. Sedikit berbeda jika selah adzan magrib di wilayah Sumatra yaitu langsung iqomat, berbeda dengan di Jakarta masih menunggu sebagian jamaah  solat sunat.

Ada kejadian unik setelah sholat magrib dan menikmati makan pempek di warung depan masjid. Ternyata dengan mengeluarkan uang 15.000 rupiah porsi ini sudah berlebih, sehingga sebagian harus di bungkus lumayan untuk cadangan di kamar hotel jika pingin cemilan tambahan. Saat berjalan menuju hotel di persimpangan lampu merah Sekip, ada pengendara sepeda motor yang sedang mengalami kesulitan karena mogok dan mobil yang di belakangnya terus membunyikan klakson. Saat minggir karena gigi pengatur belum di netralkan, maka kubantu untuk minggir. Setelah dicek ternyata bensinnya habis. Permasalahannya ternyata SPBU jauh, sehingga setelah bertanya anak muda di warung memberikan informasi bahwa ada penjual bensin eceran di seberang persimpangan yang disebut persimpangan enam. Tanpa merasa khawatir ternyata pengendara motor berjilbab itu langsung menitipkan motor ke saya, walau sedikit ragu maka ku jaga sepeda motor bebek tersebut sambil berbincang dengan penjaga warung. Setelah sekitar sepuluh menit lebih dengan tentengan sebotol minuman mineral besar dalam plastik, maka segera kuarih dan dimasukkan dalam tengki sepeda motor. Agar lama untuk menghidupkan kendaraan tersebut karena sebelumnya benar-benar kosong. Sambil berusaha menghidupkan motor dengan  sedikit bercanda mulai pembicaraan “Kok percaya meninggalkan motor ke orang asing, kalau dibawa kabur bagaimana?’. Dengan sedikit malu dia menjawab “Yakin aja kalau yang dititipin orang baik-baik”. Wah GR juga dalam batin saya, akhirnya komunikasi berlanjut, sambil promosi dan memberikan brosur sebuah even Parenting Entertaining yang merupakan pemekaran untuk wilayah Palembang setelah Bandung, Jakarta, dan Makasar

Semua beres, akhirnya karena ada telephon dari teman kantor yang sedang tugas di Gorontalo memberitahukan bahwa akan ada temannya menemui saya di hotel, maka segeralah bergagas pulang ke hotel. Saat sampai di hotel agak bingung sedikit….dalam batin “Pempek yang kubungkus dimana ya?” Setelah dicari di kamar hotel tidak diketemukan sambil mengurutkan rentetan peristiwa baru sadar bahwa bungkusan pempek sempat kutaruh saat menolong gadis di lampu merah. (Pikir-pikir…..di motor atau di bangku warung ya? Gak penting diingat lagi, pokoknya dah ilang).

Sambil ngobrol dengan receptionis, tak berapa lama tamu datang ibu Fatmawati bersama putra pertamanya masuk di lobby hotel. Ngobrol sana-sini waktu hampir menunjuk pukul 21;00 wib, akhirnya mengingatkan kalau sebelum check out dari hotel beliau akan mengantarkan barang titipan. Sambil mengingatkan untuk mencicipi isi bungkusan  dalam plastik  (plastik asoy kata orang Palembang) akhirnya dengan kuantar ke halaman meninggalkan hotel. Setelah berada di kamar hotel, saat membuka bungkusan ….. alhamdulillah ternyata Allah menggantikan rizki yaitu pempek yang tertinggal lebih banyak. Dalam hati berpikir…. wah dua hari di Palembang, ternyata harus mengikuti pola makan di Palembang pula. Makan malam pempek, dan sarapan pagi juga pempek. Palembang……….gitu.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: