Skip to content

Khasanah Kepenjasan

05/09/2012

Hubungan antara pendidikan jasmani (penjas) dan olahraga bersifat arbiter di Indonesia. Pada awal kemerdekaan wacana olahraga direproduksi sebagai kendaraan untuk membangun identitas kolektif dan nasionalisme, penjas menjadi strategis dan didominasi oleh kandungan isi pelajaran yang bersifat keolahragaan. Barangkali residu ini masih sangat terasa dalam wacana penjas Indonesia kontemporer bahwa penjas menjadi dasar bagi lahirnya atlet-atlet berkualitas yang akan mengharumkan negara. Kini semangat menujukkan keunggulan suatu bangsa di atas bangsa-bangsa lain sudah tidak lagi sama dengan masa awal kemerdekaan Negara ini. Pemerintah pada dekade ini lebih tertarik untuk menengok diri dan mengaca pada perbaikan moral dan karakter bangsa ini. Untuk itu melalui mekanisme politik budaya, wacana “pendidikan karakter”  direproduksi dan diperkuat.

Penjas sebagai alat untuk mendidik bangsa yang nilai karakternya sedang terperosok, maka diharapkan siapapun harus mengambil andil dalam pembangunan karakter tersebut. Bagi pemeran (khususnya pendidik dan tenaga kependidikan) yang tidak turut berperan terutama dalam penjas untuk mencapai pendidikan yang berkarakter akan ditempatkan di pinggiran eksistensi. Klaim bahwa penjas membangun nasionalisme dan mendidik karakter ini bersifat lemah secara ilmiah dan berbahaya secara sosiologis (Coakley, 2007, 2011). Namun, inilah proses dimana penjas memposisikan diri dalam wacana dominan dan dengan demikian akan tetap eksis dalam perkembangan pembangunan.

Gagasan bahwa penjas sebagai “alat” pembudayaan olahraga didasari oleh apa yang disebut Kirk (2010) asumsi penjas-sebagai-teknik-olahraga. Kirk (2010) memberikan informasi yang melimpah tentang kecacatan asumsi ini. Sebagai contoh, sisi positif olahraga mungkin sama besarnya dengan sisi gelapnya. Sosiolog olahraga sudah sejak lama perihatin dengan olahraga sebagai arena untuk mereproduksi dan menegaskan ketidaksetaraan dan ketidakadilan sosial (misalnya bias dan kesenjangan gender, rasisme, dan diskriminasi). Tanpa pendekatan pedagogi yang hati-hati, mengajarkan kandungan isi pelajaran olahraga yang dijadikan media dalam penjas justru dapat melanggengkan ketidakadilan sosial. Contoh yang lain adalah dari Siedentop dan Lock (1997) yang mengkritisi keluaran pembelajaran penjas yang terlalu berorientasi pada teknik berolahraga. Menurut mereka, penjas dengan orientasi teknik olahraga bersifat lemah dalam membantu siswa untuk aktif secara jasmani sepanjang hayat. Lantas bagaimana dengan penjas di Indonesia dan apa cetak biru masa depannya berdasar statusnya saat ini? Saat ini penjas Indonesia berada dalam pusaran wacana pendidikan karakter. Penjas sering diklaim sebagai jalan dalam mendidik karakter anak bangsa. Walaupun di literatur belum pernah terdengar suatu model pembelajaran penjas untuk pengembangan karakter, pakar penjas dan penentu kebijakan masih saja tetap menggaungkan wacana karakter dalam penjas sebagai bentuk usaha mempertahankan eksistensi. Kenyataannya, praktik pembelajaran penjas di sekolah masih berkutat pada apa yang disebut Kirk (2010) sebagai penjas-sebagai-teknik-olahraga. Oleh sebab itu berharap penjas akan tetap berjalan di atas relnya saat ini mengikuti wacana dominan pendidikan karakter.

Pustaka:

Coakley, J. (2007). Sport and Character Development among Adolescents. Makalah dipresentasikan dalam the Improved Sport for Hundreds of Millions of Chinese Children, Beijing, China.

Kirk, D. (2010). Physical Education Futures. London: Routledge.

Siedentop, D. & Lock, L. (1997). Making a Difference for Physical Education: What professors and practitioners must build together. Journal of Physical Education,  Recreation and Dance, 68: 25-33.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: