Skip to content

TINGKAT MORALITAS DIRI

04/06/2012

Minggu pagi (3 Juni 2012) saat membaca rubrik di harian kompas dengan judul “Meneliti Moralitas Diri” digelitik dengan pertanyaan seperti berikut:

  • Bila kita bisa menyontek tanpa seorang pun akan tahu, apakah kita menyontek?
  • Bila ada kesempatan untuk korupsi dan kita pasti diuntungkan oleh posisi kita sehingga tetap aman, apakah kita akan korupsi?

Bila saya tambahkan pertanyaan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita, maka ada pertanyaan berikut:

  • Bila ada kesempatan untuk melanggar peraturan lalu lintas dan merasa aman dari jeratan hukum, apakah kita tetap akan melanggar peraturan itu?
  • Bila kita berlalulintas dan etika berlalulintas tidak diterapkan  masyarakat, apakah kita tetap menerapkan etika dalam berlalulintas?
  • Bila membuang sampah tidak pada tempatnya dan tidak pernah ada sangsi, apakah kita akan terus membuang sampah sembarangan padahal kita tahu bahwa itu akan merugikan kita dan orang lain?

 Dari tulisan itu dimunculkan tokoh mengenai perkembangan moral yaitu Kohlberg (1970), bahwa tingkat perkembangan moral terbagi dalam tiga tingkatan, yakni:

  1. Prakonvensional, biasanya bertumbuh pada anak-anak.
  2. Konvensional, berkembang dalam konteks masyarakat yang lebih luas, dan
  3. Pascakonvensional, yang tidak lagi bersandar pada konvensi melainkan pada suara hati yang tertinggi.

Prinsip etis universal

Pada kelompok prakonvensional dimulai dari orientasi “kepatuhan” dan “hukuman”. Manusia berperilaku sesuai apa yang dipelajarinya diterima masyarakat, melalui apa yang diperintahkan oleh tokoh otoritas (orangtua atau guru). Baik dan buruk itu tergantung dari konskuensinya. Bila dipuji, atau setidaknya dibiarkan, berarti itu baik, bila mengundang hukuman, berarti itu perilaku yang tidak baik. Dari hal itu anak beranjak lebih tinggi ke pemahaman adanya kerja sama dan manfaatnya bagi diri sendiri (kalau kita baik ke orang lain, orang lain akan bersikap baik ke kita juga). Tahap ini disebut individualisme, instrumentalisme, dan pertukaran.

Tahap kedua, konvensional, ditandai pertama-tama dengan sikap individu untuk mencari apa yang memperoleh penerimaan dari lingkungan (tahap hubungan interpersonal atau anak baik). Berlanjut dengan kesepakatan social mengenai aturan dan hukum, individu menjalankan kewajiban sesuai aturan masyarakat.

Tahap terakhir, pascakonvensional, individu telah beranjak dari standar social, dan masuk pada prinsip-prinsip ideal. Tahap ini dimulai dari pemahaman mengenai kontrak social, yakni kesadaran dengan niat baik bahwa aturan ada untuk kebaikan samua orang dan perlu diikuti dalam kehidupan yang demokratis. Berlanjut ke fase prinsip etis universal, benar-salah tidak lagi ditentukan dari luar, melainkan oleh hadirnya suara hati yang paling bersih. Menurut Kohlberg, manusia beranjak dari fase moral yang lebih rendah ke lebih tinggi, dan tidak semua orang sampai pada tahap prinsip etis universal.

Pada posisi mana moralitas diri kita, sedang menuju ke atas atau ke bawah? Apakah sudah mengenal atau dalam tahap belajar? Semoga penanaman dan penempaan akan semakin hebat, sehingga tidak banyak gejolak timbul di masyarakat!!!

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: