Skip to content

Pengeluaran Sia-sia Ratusan Triliun Setelah Beras

23/09/2011
tags:

Jika pernah melihat dan mendengar berita tentang demontrasi oleh kelompok petani tembakau akibat menolak Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengendalian Tembakau dan aturan peringatan bergambar  pada rokok serta pengendalian iklan, promosi, dan sponsor rokok, sebenarnya apa yang dikehendaki oleh kelompok demonstran tersebut. Apakah murni dari petani atau karena politisasi oleh pengusaha-pengusah rokok. Namun jika melihat harga bahan-bahan pokok terus melambung karena produktivitas yang tidak dapat memenuhi kebutuhan penduduk, mengapa petani dan pemerintah tidak memilih solusi untuk mengatasi kekurangan bahan kebutuhan tersebut.

Menelaah tentang tembakau sebagai bahan utama rokok, memang ada banyak hal yang berdampak terhadap ekonomi masyarakat yaitu keuntungan dan kerugian terhadap hasil komoditi ini. Maka jika membahas rokok, jarang masyarakat berbicara dampak rokok terhadap perokok pasif. Tetapi masih banyak berkutat pada dampak si perokok itu sendiri, bahwa racun rokok sangat berpotensi dihirup oleh mereka yang berada dalam satu ruangan dengan perokok. Bahkan mereka yang menempati ruangan bekas dipakai merokok juga berpotensi menghirup racun yang menempel pada barang-barang di ruangan itu.

Menurut Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Adang Bachtiar bahwa “Racun rokok yang bersifat karsinogenik (memicu kanker) dapat tertinggal di kursi, lemari, atau dinding di ruangan tempat merokok. Orang yang menghirup itu disebut  thirdhand smoker”

Dari data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan pada tahun 2007 menunjukkan 97 juta warga dewasa yang tak merokok dan 43 juta anak-anak Indonesia terpapar asap rokok oleh orang lain (secondhand smoker).

Peraturan tentang larangan merokok oleh pemerintah yang diterapkan di tempat public baru diterapkan di tempat kesehatan dan pendidikan, namun realisasinya belum berjalan dengan baik. Bahkan di kawasan ASEAN merupakan hal yang terburuk, karena Negara-negara lain sudah menerapkan larangan merokok di angkutan umum, restoran-bar, tempat kerja, dan ruang tertutup lainnya.

Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengendalian Tembakau dan aturan peringatan bergambar  pada rokok serta pengendalian iklan, promosi, dan sponsor rokok. Namun RPP yang seharusnya selesai tahun 2010 itu belum tuntas akibat besarnya kepentingan kementerian lain.

Pada tahun 2010 tembakau menyebabkan pengeluaran yang tidak perlu sebesar Rp. 231,27 triliun. Rinciannya adalah Rp. 138 triliun untuk membeli rokok, Rp. 2,11 triliun untu perawatan medis, dan Rp. 91,6 triliun akibat hilangnya produktivitas.

Data pada tahun 2008 ternyata rokok menjadi pengeluaran kedua setelah padi-padian (bahan makan pokok), dimana komsumennya sebagian besar tergolong  kelompok miskin. Wah… begitu gawatnya karena jumlah perokok semakin meningkat terutama pada kelompok usia produktif baik laki-laki atau perempuan. Semoga pemerintah dan keluarga Indonesia semakin peduli terdapat dampak-dampak negative ini.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: