Skip to content

Cukup Mencengangkan

13/07/2011
prasrokok

Memasuki waktu rehat di sore ini (12/7) pada kegiatan diklat penguatan kemampuan pengawas sekolah Propinsi Banten 2 di  Hotel Wira Carita, maka saat bergabung dengan bapak-bapak peserta yang sedang menikmati hisapan rokok terjadi dialog kecil. Muncul pertanyaan kepada mereka “Berapa bungkus kebiasaan merokok bisa dihabiskan dalam sehari, pak?” agak sedikit tercengang dan kaget, bahwa beliau menjawab “Kalau di rumah bisa menghabiskan empat bungkus rokok, dan bila ada kegiatan seperti ini paling-paling dua bungkus saja”. Dalam persepsi saya,  kebiasaan merokok teman-teman dan orang di sekitar saya biasanya hanya satu atau tidak lebih dari dua bungkus. Wow…. baru kali ini mendengar jawaban, ternyata ada orang yang bisa merokok sampai menghabiskan empat bungkus sehari.

Pada moment tertentu bila sedang mengilustrasikan dan mencontohkan dampak negative rokok secara ekonomi, jika sehari membakar sebungkus rokok maka rupiah yang dibakar pada kisaran 10.000 rupiah. Maka dalam sebulan bisa menghabiskan sekitar 300.000 rupiah, selanjutnya bila diakumulasikan dalam setahun dapat mencapai angka lebih dari 3.600.000 rupiah.

Berdasarkan data kecil dari percakapan di atas sungguh mencengangkan jika seorang perokok bisa menghabiskan empat bungkus rokok, berarti dalam sebulan harus mengeluarkan dana tidak kurang dari 1.200.000 rupiah. Hitung punya hitung maka dalam setahun terakumulasi nilai rupiah tidak kurang dari 14,4 juta rupiah.

Sungguh ironis dari kenyataan tersebut berdasarkan angka-angka yang pernah kubaca dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa di Asia, Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak jumlah perokok yang mencapai 146.860.000 jiwa. Hal ini berarti kalau setiap perokok menghabiskan sebungkus rokok, dana yang dibakar setiap hari bisa mencapai lebih dari 14,4 milyar atau dalam sebulan mencapai 44 milyar lebih. Bagaimana kalau perokok rata-rata menghabiskan rokok lebih dari sebungkus, berarti dalam sehari telah membakar uang 28, 8 milyar rupiah di negeri ini. Aha… sungguh ironis dengan kondisi rakyat yang sebagian besar miskin.

Maka bila sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp 20 ribu per hari, bila berpijak dari upah minimum regional Jakarta sekitar Rp 38 ribu per hari dan perokok di Indonesia 70 persen diantaranya berasal dari kalangan keluarga miskin sungguh suatu menejemen keuangan yang kurang bagus bagi keluarga terutama yang berada dalam kelompok keluarga miskin. Hal ini bertolak belakang dengan konsumsi susu masyarakat Indonesia yang masih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi susu di Malaysia dan Filipina yang mencapai 22,1 liter per kapita per tahun, Thailand 33,7 liter per kapita per tahun, Vietnam 12,1 liter per kapita per tahun dan India mencapai 42, 08 liter per kapita per tahun. Konsumsi susu per kapita di Indonesia tahun 2010 menurut data dari Kementerian Pertanian adalah 11,84 liter. Artinya, rata-rata orang Indonesia minum 32,44 liter atau 2 sendok makan per hari atau setara tidak lebih dari dua batang rokok. Jika kebutuhan susu dicukupi  200 ml/hari maka seminggu tidak menghabis lebih dari 1,5 liter, dan nilainya tidak lebih dari dua bungkus rokok. Tetapi hal ini tidak diperhatikan oleh keluarga-keluarga di Indonesia. Sungguh ironis bahwa untuk melengkapi kecukupan gizi diabaikan yaitu susu, tetapi rokok yang meracuni tubuh di utamakan setelah setelah kebutuhan makanan pokok.

Secara jujur para perokok juga menyadari kalau kebiasaan merokok itu kurang baik, bagi dirinya dan orang lain terutama dalam hal kesehatan. Makanya perokok juga menganjurkan kepada anaknya atau orang yang belum merokok untuk tidak merokok. Tapi kepedulian rakyat dan bangsa ini terhadap bahaya buruk akibat merokok dianggap hal yang tidak dipikirkan. Semoga peraturan-peraturan daerah berhubungan dengan bahaya merokok segera menyusul seperti pemda DKI Jakarta, tetapi janganlah mandul sehingga akan muncul patriotis-patriotis sadar hukum. Walaupun kita tahu untuk belajar taat dan menghormati terhadap tata tertib saja sangat sulit, sehingga peraturan ya tinggal peraturan.

Sumber data:

http://zonabiru.blogspot.com/2008/07/fakta-mengejutkan-tentang-rokok-dan.html

http://health.kompas.com/read/2011/04/23/03472412/Konsumsi.Susu.Cair.di.Indonesia.Rendah

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: