Skip to content

MEWARNAI HARIKU

14/05/2011

Sabtu (14/5) pagi diri hari dalam menjemput waktu  subuh sebenarnya sudah dua kali mata terbuka, namun lekatnya tubuh dipembaringan agak sulit meninggalkan peraduan. Saat menjelang jam empat pagi barulah kedua bola mata siap menerima cahaya ketika kelopak mata sanggup bertahan terbuka dengan dukungan niat sehingga tubuh sanggup melangkah untuk menunaikan tugas sehingga usapan wajah dengan air wudlu menyegarkan dan menghilangkan rasa kantuk.

Pagi diiringi suasana lebih nyaman dan damai, serta penuh keyakinan untuk menghiasi waktu yang terus bergulir. Dalam duduk bersimpuh dalam penyerahan diri kepada Yang Maha Mengatur kehidupan ini maka berharap kehidupanku, keluargaku, kedua orang tua, keluarga besarku, teman dan sahabat senantiasa diberikan rahmat dan hidayahNYA agar dalam perjalanan hidup ini segalanya selalu mendapatkan ridho Allah subhana wata’ala. Setelah terdengar adzan subuh dari beberapa masjid dan musholla , maka lekas-lekas meninggalkan rumah untuk menunaikan sholat subuh di musholla yang sudah hampir empat tahun bisa berjamaah saat-saat berada di rumah bersama keluarga.

Seperti hari-hari lainnya di hari sekolah Alya dan hari kerja maka bersama kedua putri yang tercinta, setelah menyiapkan keberangkatan Alya dan sarapan pagi maka mengantar mamanya ke pintu komplek perumahan menjadi rutinitas pagi hari sekitar jam tujuh untuk mencari angkutan umum menuju ke tempat kerja. Hal ini bisa berlangsung sejak bulan kedua di tahun ini karena setelah pindah tempat kerja  salah satu cabang perusahaan yang lebih dekat dan masuk jam sembilan,  sering pula dibarengi belanja kebutuhan harian, serta makanan ringan untuk bekal sekolah Alya masuk sekolah.

Ada dua hal yang mewarnai siang menjelang waktu dluhur, yaitu pertama; sekitar jam sembilan hp bordering dari seorang teman bahkan kuanggap sahabat yang hampir tujuh bulan ini bisa berkomunikasi dengan baik, yaitu mengabarkan saat dalam perjalanan ke bandara Seotta di Cengkareng. Saat percakapan berlangsung sedang melintas di tol sekitar Mal Taman Angrek, karena dari sekitar jam tujuh sudah bergabung dengan rombongan lainnya di masjid Sunda Kelapa Jakarta Pusat, bersama rombongan untuk tujuan ke Mekkah dalam rangka melaksanakan ibadah umrah. Karena kesibukan persiapan kegiatan di wilayah Sumatra dan juga persiapannya menjelang cuti untuk umrah maka di minggu ini pun jarang berkomunikasi.

Padahal pada minggu-minggu sebelumnya biasanya di hari kerja saling menyapa melalui dunia maya, walaupun jadwal keberangkatannya sudah kuterima sejak jauh-jauh hari dan minggu. Maka hanya dengan messege di facebook sempat mengirim pesan untuk memberikan support dan do’a agar niat dan pelaksanaan ibadahnya sempurna. Maka dengan pembicaraan ringan di hp juga memberikan dukungan dan do’a agar lancar, tak lupa juga setelah pembicaraan itu kukirim sms. Isi sms itu inti dari uraian “Semoga saudaraku ini dalam menjalankan umrah dan bait Allah agar senantiasa: sehat, segalanya diniatkan karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah, syarat dan rukunnya dapat terpenuhi dengan sempurna, dijauhkan dari godaan yang mengurangi dari nilai-nilai ibadah, dan selalu mendapat rahmat serta hidayahNYA untuk meraih ridho  Allah subhana wata’ala ”

Kedua, sekitar jam sebelas saat kedua putriku Alya dan Khanza bermain berdua di kamar sambil nonton televisi, dikejutkan karena bertebarannya potongan rambut di lantai. Setelah diamati ternyata rambut yang terurai menutupi punggung sebagian ada yang yang terpotong hingga mendekati kulit rambut. Akhirnya ada alasan untuk membujuk agar rambutnya mau dirapikan, karena sudah beberapa bulan terakhhir mamanya merayu agar rambutnya rela dirapikan belum berhasil. Apalagi Khanza yang rambutnya sebahu dan agak bergelombang dari sejak bayi belum pernah dipotong, makanya agak berantakan di ujungnya. Beberapa menit kemudian barulah Alya mengiyakan untuk rambutnya dipotong.

Selanjutnya berangkatlah menuju ke Salon tempat mamanya biasa merapikan mahkota kepalanya. Saat Alya sedang dipotong, tugas melanjutkan agar Khanza mau dirapikan juga rambutnya. Maka dengan bujukan dan rayuan akhirnya Khanza juga bersedia rambutnya dirapikan, dengan memberikan syarat setelah ayahnya dipotong. Ha ….. (agak kaget) gimana nih padahal tidak ada niat mau potong rambut karena masih pendek, sebab baru sekitar tiga minggu yang lalu rambut dipotong pendek. Ya sudah ikuti saja syarat itu, dan akhirnya ketiganya potong dan cuci rambut.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: