Skip to content

Posisi Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Tari

26/04/2011

Indonesia sebagai negara besar dengan penduduk lebih dari dua ratus lima puluh juta jiwa kini menghadapi hal yang serius mengenai prestasi olahraga di percaturan dunia internasional.  Sangatlah ironis ketika di kawasan Asia Tenggara dalam Sea Games saja bahwa hasilnya menduduki pada peringkat ke-empat, di bawah Thailand, Malaysia, dan Singapura. Masalah ini merupakan cerminan dari keterpurukan bangsa di hampir seluruh sektor kehidupan, namun demikian tidak selayaknya stake holder di bidang olahraga menjadikannya sebagai alasan “permaafaan”.

Permasalahan ini bisa dapat diatasi  jika kita mau mengurai dari perihal yang paling mendasar, yaitu meletakkan olahraga di tempat yang seharusnya, mulai dari mengerti secara ontologi (menjawab pertanyaan apa) itu olahraga, dari mana dan dengan apa olahraga dikembangkan (epistimologi), serta untuk apa olahraga digunakan. Undang-undang no. 3 tahun 2005 tentang Sistem KeolahragaanNasional (sisornas), menyebutkan tiga lingkup olahraga yaitu; olahraga prestasi, olahraga pendidikan, dan olahraga rekreasi, walaupun pada pasal berikutnya juga disebutkan adanya olahraga cacat.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) di lain pihak juga memuat pendidikan jasmani dan olahraga (ingat; bukan pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan), serta adanya olahraga di sistem pembinaan kepemudaan. Artinya, dari kedua landasan hukum tersebut harus ada benang merah yang menghubungkan sistem pembinaan yang diamanatkan, seperti yang disebutkan pada pasal 25 UU Sisornas, yaitu; “Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dan diarahkan sebagai satu kesatuan yang sistemis dan berkesinambungan dengan sistem pendidikan nasional”.  Namun demikian jika kita cermati lebih lanjut ada beberapa pasal yang belum memenuhi amanat tersebut, satu contoh kecil adalah “Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dengan memperhatikan potensi, kemampuan, minat, dan bakat peserta didik secara menyeluruh, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler (UU Sistim Olahraga Nasional). Hal ini tentu berbeda jika kita bandingkan dengan SPN, ketika kita berbicara potensi, kemampuan,minat, dan bakat peserta didik secara menyeluruh, maka berdasar SPN hanya bisa dilaksanakan melalui pengembangan diri atau ekstrakurikuler dan bukannya intrakurikuler seperti di atas. Intakuler disekolah tidak memberi peluang partisipasi pilihan, melainkan partisipasi wajib walaupun perlakuan terhadap setiap individu bisa saja berbeda-beda dalam melakukan apa yang diwajibkan tersebut.

Jenis olahraga yang dimuat dalam lingkup olahraga UU Sisornas belum memuat keseluruhan jenis yang dimuat dalam azas dan falsafah olahraga yang telah disepakati dalam kongres keolahragaan yang meliputi; olahraga kesehatan (aktivitas kebugaran yang meliputirehabilitasi dan revalidasi sebagai bagian dari aktivitas jasmani bukan medik), pendidikan jasmani (merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan), olahraga rekreatif (yang didasari oleh “olahraga untuk semua” serta trim actie, olahraga kompetitif (bukan olahraga prestasi), serta tari (dimulai dari subyektif aktif, hingga obyektif pasif). Jika hal tersebut kita analisis lebih lanjut, maka akan kita ketahui perbedaanya; Pada dasarnya istilah-istilah di atas adalah merupakan aktivitas gerakyang dilakukan oleh manusia. Ketika empat istilah tersebut dilihat sebagai bahan kajian, maka hakikatnya mengkaji bahan kajian yang sama yaitu manusia yang bergerak (obyek material), tetapi ketika kita akan melakukan empat istilah tersebut sebagai aktivitas, maka sebenarnya kita melakukan aktivitas yang sama yaitu bergerak. Bentuk unit-unit aktivitas yang berbeda-beda pada dasarnya memiliki tujuan sabagai pengembangan dan pendidikan (obyek forma).

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka perbedaan-perbedaan dari masing-masing istilah terletak pada tujuan utama masing-masing aktivitas, landasan keilmuan yang mendasari suatu aktivitas, serta bentuk dan tata cara melakukan masing-masing aktivitas tersebut.

1. Olahraga Kesehatan

Olahraga kesehatan yang dimaksud di sini adalah olahraga dengan menggunakan berbagai aktivitas jasmani yang bertujuan untuk mengembangkan kesehatan individu. Kesehatan yang dimaksud merupakan kesehatan yang berhubungan dengan kebugaran jasmani (health related physical fittness), bukan merupakan kesehatan secara medik (patologi dan disfungsi organ dalam). Namun demikian bahwa dengan meningkatnya kebugaran jasamani akan dapat meningkatkatkan sistem imunitas tubuh, dan dengan tingkat kekebalan yang baik maka penyakit akan susah masuk bisa saja dapat dihubungkan, serta yang tidak tertutup kemungkinannya adalah dilakukannya rehabilitasi dan revalidasi sistem organ tubuh.

2.  Pendidikan Jasmani

Tujuan pendidikan jasmani; adalah sesuai pasal 37 UU Sisdiknas yaitu ditekankan untuk membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa sportivitas, selain sebagai media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial),  serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Selain tujuan utama tersebut dimungkinkan adanya tujuan pengiring, tetapi porsinya tidak dominan. Landasan keilmuan, karena pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara menyeluruh, maka landasan keilmuan utama adalah paedagogis (pendidikan anak) menyangkut didaktik-metodik, selain ilmu penunjang lain tentunya, misalnya tentang perkembangan gerak, pembelajaran gerak, tes danpengukuran performa, dan lain-lain sebagai kelompok ilmusosiokinetika. Bentuk dan tata cara melakukan, bentuk aktivitas pendidikan jasmani adalah terutama berupa gerak-gerak pengembangan polagerak dasar (fundamental movements patern), atau bahkan berbagai cabang olahraga, aktivitas rekreatif, dan tari, tetapi diadaptasi sedemikian rupa sehingga tujuan utama pendidikan terpenuhi. Misalnya, bisa saja pendidikan jasmani menggunakan cabang olahraga bolavoli sebagai unit aktivitasnya, tetapi bolavoli yang telah dimodifikasi dan diadaptasi sedemikian rupa, sehingga pola gerak dasar akan berkembang, tertanam jiwa sportif,  sertanilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

3.  Olahraga Kompetitif

Tujuan olahraga adalah terutama untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya sebagai pengembangan bakat, minat, potensi, kemauan, serta kemampuan. Landasan keilmuan olahraga adalah ilmu-ilmu tentang pengembangan kemampuan tubuh, selain ilmu-ilmu lain sebagai penunjang tercapainya prestasi yang diinginkan, seperti fisiologi, biomekanika, dan cabang-cabang ilmu lain yang tergabung dalam kelompok ilmu somatokinetika. Bentuk dan tata cara melakukan olahraga, bentuk-bentuk aktivitas olahraga adalah cabang-cabang olahraga yang terbagi dalam beberapa kelompok, misalnya atletik, senam, kelompok permainan, bela diri, akuatik, dan lain-lain. Olahraga dilakukan sesuai dengan tata aturan yang telah disepakati bersama sebagai peraturan permainan. Menang dan kalah merupakan ukuran utama keberhasilan dan ketidak berhasilan dalam olahraga.

4. Olahraga Rekreasi

Tujuan rekreasi adalah pengisian waktu luang (leisure time) dan meningkatkan kesehatan, kebugaran, kegembiraan, dan hubungan sosial.Landasan keilmuan rekreasi adalah ilmu-ilmu sosial, sejarah, dan cabang-cabang lain yang tergabung dalam kelompok antropokinetika. Bentuk dan tata cara melakukan rekreasi, berupa aktivitas-aktivitas permainan yang menyenangkan, atau cabang-cabang olahraga yang telah dimodifikasi dan diadaptasi sedemikian rupa agar menyenangkan dan bermanfaat bagi kesehatan, kebugaran, dan terjalinya hubungan sosial yang lebih baik.

5. Tari

Tujuan tari adalah untuk mengekspresikan kondisi kejiwaan seseorang melalui aktivitas gerak tari yang berirama, ketika tarian merupakan ekspresi kegembiraan maka tari dapat saja digunakan sebagai media rekreasi, ketika tari dilakukan sedemikian rupa untuk mendidik maka tari bisa dimasukkan dalam pendidikan jasmani,dan ketika tari diekspresikan secara sporti maka tari dapat dianggap sebagai olahraga. Contohnya adalah tarian pada aerobic-gymnastic (aerobic gymnastic dance movement pattern). Landasan keilmuan tari adalah, selain ilmu tentang gerak sebagai penunjang, yang terutama adalah ilmu tentang estetika gerak. Bentuk aktivitasnya adalah berupa gerak dasar tarian (dancing basic steps and arm movement), berbagai permainan dan cabang olahraga yang telah diadaptasi. Pendidikan jasmani, jika kita membaca dari uraian di atas dapat dipahami sebagai bagian dari aktivitas jasmani yang dalam pelaksanaannya dapat menggunakan berbagai gerak  dari aktivitas jasmani lainnya, tetapi diadaptasi sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.

Sumber:

Ediiting dari teks: Pengembangan Kebugaran Jasmani Tingkat Lanjutan SD, P4TK Penjas dan BK.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: