Skip to content

DI BUMI RAFFLESIA

28/10/2010

Setelah lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta menjelang sekitar 50 menit, pesawat  Boeing  737-400 dengan kode penerbangan JT0636  mendarat di bandara Fatmawati (BKS) Propinsi Bengkulu sekitar pukul 10.20 wib . Cuaca cukup bagus disekitar bandara, sehingga pendaratan tidak terlalu membuat cemas dan menegangkan. Pada kesempatan ketiga mengunjungi propinsi  yang dikenalkan dengan sebutan “Bumi Rafflesia” ini agak berbeda dalam tugas dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu berhubungan peningkatan kompetensi tenaga kependidikan.

Untuk penjalanan udara pada akhir tahun yang memasuki musim hujan sering mengalami kekawatiran, apalagi pada sore hari. Hal ini karena kemungkinan besar sore hari sering terjadi awan tebal bahkan hujan, sehingga jika menjelang pendaratan pesawat memasuki kumpulan awan pekat terjadi ketidaknyamanan penerbangan. Apalagi kalau beberapa menit  memasuki awal tebal, dimana jika terjadi turbulensi seperti  pengalaman yang pernah  terjadi  saat pernerbangan dari Makasar menjelang pendaratan di bandara Soetta sekitar  10 menit menembus awan yang tebal. Disamping guncangan pesawat diselingi pula hempasan  pesawat turun drastis seakan-akan tanpa daya angkat dan kadang-kadang naik.

Dari referensi yang pernah kubaca turbulensi adalah kondisi di mana dalam kolom udara terjadi benturan masa udara yang datang dengan kecepatan yang cukup tinggi dan berasal dari berbagai arah yang tidak beraturan. Ada empat macam turbulensi, yaitu jet stream, clear air turbulance, wake turbulance, dan windshear. Jet stream adalah alur dari arus udara yang mengalir dengan kecepatan tinggi seperti layaknya sebuah sungai yang terjadi sebagai akibat fenomena alam pada pertemuan udara panas dengan udara dingin. Jet stream dapat mengakibatkan pesawat terbang menjadi lebih cepat dan dikenal sebagai tail wind dan sebaliknya dapat menghambat kecepatan pesawat yang dikenal sebagai head wind. Di dalam atau di sekitar jet stream acap terbentuk kantung udara (air pocket), yaitu kolom udara yang terdiri dari bertemunya aliran udara dari arah yang tidak beraturan dengan kecepatan tinggi sehingga menghasilkan dorongan udara yang kuat ke bawah, dikenal dengan istilah down draft atau sebaliknya, dorongan yang kuat ke atas up-draft. Inilah yang disebut dengan Clear Air Turbulance (CAT). CAT umumnya terjadi pada ketinggian antara 23.000 kaki sampai 39.000 kaki, tepat di area tinggi jelajah ekonomis pesawat terbang komersial.

Sudah tiga hari ini menurut kabar rekan-rekan yang datang lebih awal setiap hari hujan,  Dengan kondisi cuaca buruk dari awal pekan di minggu terakhir pada bulan Oktober 2010 ini, maka penerbangan udaran banyak ditunda demi keselamatan penerbangan.

 

fujifilm j38

Tugu Simpang Limo Bengkulu

Selama tiga hari di Bengkulu ini hujan terus-menerus, bahkan dalam berita di televisi beberapa bencana alam sedang menerpa di Negara Republik Indonesia tercinta, seperti gempa dan tsunami di Mentawai, semburan awan panas di gunung Merapi, dan banjir di wilayah DKI Jakarta. Bahkan dua minggu sebelumnya telah terjadi bencana banjir bandang di Wasior Papua Barat.

Sungguh kejadian ini sebagai bahan renungan untuk kita semua, apa kelalaian dan kecerobohan sebagai umat terhadap alam ini. Semoga ……………. Setiap individu untuk berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih sempurna sebagai ciptaan Allah, yang akan menghargai setiap makhluk ciptaan-Nya. Amin…

 

Tiba di bandara Fatmawati (BKS)

Di depan benteng Marlborough Bengkulu

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: