Skip to content

AWAL-AWAL PEKAN OLAHRAGA NASIONAL

29/08/2010

Setelah masa perjuangan melawan penjajah menggunakan perlawanan fisik, maka pada masanya beralih menggunakan perlawanan politik, sejarah perlawanan menggunakan politik diawali dengan berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 sebagai organisasi pergerakan nasional menuju Indonesia Merdeka, maka pada setiap tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

Perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan pada bidang politik, tetapi juga pada bidang olahraga diawali dengan berdirinya PSSI (Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia) yang dibentuk 19 April 1930 di Yogyakarta. Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di Zaman penjajahan Belanda, Kelahiran PSSI betapapun terkait dengan kegiatan politik menentang penjajahan. Jika meneliti dan menganalisa saat- saat sebelum, selama dan sesudah kelahirannya, sampai 5 tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jelas sekali bahwa PSSI lahir, karena dibidani politisi bangsa yang baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia.

Berkat perkembangannya yang baik, pada tahun 1938 pihak Belanda melalui persatuan sepakbolanya, Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) mengadakan pendekatan dan kerjasama dengan PSSI. Jejak sepakbola ini dituruti oleh cabang olahraga Tennis dengan berdirinya Persatuan Lawn tennis Indonesia (PELTI) pada tahun 1935 di Semarang. Berkedudukan di Jakarta (waktu itu bernama Batavia), pada tahun 1938 lahirlah Ikatan Sport Indonesia dengna singkatan ISI, satu-satunya badan olahraga yang bersifat nasional dan berbentuk federasi. Maksud dan tujuannya adalah untuk membimbing, menghimpun dan mengkoordinir semua cabang olahraga, antara lain PSSI, PELTI dan Persatuan Bola Keranjang Seluruh Indonesia (PBKSI), yang didirikan pada tahun 1940. Ikatan Sport Indonesia (ISI) sebagai koordinator cabang-cabang olahraga pada tahun 1938 pernah mengadakan Pekan Olahraga Indonesia, yang dikenal dengan nama ISI-Sportweek atau pekan olahraga ISI.

Serangan Jepang secara mendadak pada tanggal 8 Desember 1941 terhadap Pearl Harbour (Pelabuhan Mutiara) menimbulkan perang Pasifik. Dengan masuknya Jepang ke Indonesia pada bulan Maret 1942, ISI oleh sebab berbagai kesulitan dan rintangan, tidak bisa menggerakkan aktivitasnya sebagaimana mestinya. Pada zaman Jepang gerakan keolahragaan ditangani oleh suatu badan yang bernama GELORA, singkatan dari Gerakan Latihan Olahraga , yang terbentuk pada masa itu. Tidak banyak peristiwa olahraga penting tercatat pada zaman Jepang selama tahun 1942-1945, oleh karena peperangan terus berlangsung dengan sengit dan kedudukan tentara Nipon terus pula terdesak. Dengan sendirinya perhatian Pemerintah militer Jepang tidak dapat diharapkan untuk memajukan kegiatan olahraga di Indonesia. Dengan runtuhnya kekuasaan Jepang pada bulan Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia membuka jalan selebar-lebarnya bagi bangsa kita untuk menangani semua kegiatan olahraga di tanah air sendiri.

Kegiatan-kegiatan ini pada awal kemerdekaan belum dapat digerakkan sepenuhnya, disebabkan perjuangan bangsa kita dalam mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan yang baru direbut itu, mendapat cobaan dan ujian. Sebagai akibatnya timbullah pertempuran di berbagai tempat, yang menjadi penghalang besar dalam mengadakan aktivitas keolahragaan secara tertib dan teratur. Namun demikian, berkat usaha keras para tokoh olahraga kita, pada bulan Januari 1947, bertempat di Balai Pertemuan Hadiprojo kota Solo diadakan kongres olahraga yang pertama di alam kemerdekaan. Berhubung dengan suasana pada masa itu, hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh olahraga dari pulau Jawa saja.

Kongres tersebut berhasil membentuk suatu badan olahraga dengan nama Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI), setelah terbentuk PORI maka dimulailah usaha-usaha agar Indonesia dapat mengikuti Olympiade XIV di London. Untuk urusan hubungan dengan Komite Olimpiade Internasional selanjutnya dibentuk pula Komite Olahraga Republik Indonesia (KORI).

Dengan demikian terdapatlah dua organisasi yang mengurus/membina keolahragaan di Indonesia pada masa itu, yaitu :

1. Persatuan Olahraga Republik Indonesia disingkat PORI yang mendapat tugas khusus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan olahraga dalam negeri.

2. Komite Olimpiade Republik Indonesia disingkat KORI yang mendapat tugas menyelenggarakan hubungan dengan Komite OIimpiade Internasional dan federasi-federasi olahraga Internasional lainnya.

Untuk mewujudkan keinginan keikutsertaan dalam Olympic Games XIV di London tersebut, KORI mengadakan persiapan-persiapan yang menyusun delegasinya. Namun karena adanya serbuan tentara Belanda ke wilayah Republik Indonesia yang dikenal dengan nama Agressi Belanda ke I, maka semua potensi dikerahkan untuk menghadapi serbuan Belanda tersebut hingga semua soal-soal keolahragaan khususnya persiapan untuk mengikuti Olimpiade XIV terpaksa tidak dapat dilaksanakan sebagai mana mestinya. Baru setelah adanya persetujuan Renville pada tanggal 13 Januari 1948, kegiatan-kegiatan keolahragaan itu dapat dihidupkan kembali.

Akan tetapl karena perslapan untuk memllih atilt-atilt tidak dapat dilakukan berhubung waktunya yang sangat sempit serta pula adanya macam-macam kesulitan lainnya, maka cita-cita untuk ikut dalam Olimpiade XIV di London tidak dapat diwujudkan. Akhirnya untuk memelihara semangat keolahragaan yang telah menyala-nyala, maka timbullah gagasan untuk menyelenggarakan pertandingan-pertandingan olahraga tingkat nasional. Atas dasar inilah, timbul gagasan untuk menghidupkan kembali Pekan Olahraga yang dilakukan oleh ISI (Ikatan Sport Indonesia) pada tahun 1938 di Solo. Sadar akan pentingnya olahraga untuk perjuangan dan pembangunan Negara, maka pekan olahraga yang akan dihidupkan kembali itu harus didasarkan kepada tujuan yang luas, yaitu bukan saja untuk meningkatkan prestasi olahraga, tetapi juga dimaksudkan untuk kepentingan politik baik ke dalam maupun ke luar negeri.

Ke dalam negeri dimaksudkan untuk membina integrasi bangsa, sedang ke luar negeri untuk menunjukkan bahwa pemerintah dan bangsa Indonesia mampu melakukan suatu pekerjaan besar di tengah-tengah kesulitan akibat rongrongan kaum penjajah Belanda pada waktu itu, yang penyelenggaraanya dengan mengikutsertakan seluruh potensi masyarakat. Dan dengan kesepakatan bersama khususnya dari para olahragawan Indonesia maka peneyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional akan dilaksanakan dimaksudkan untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui sarana olahraga, dengan konsep dasar sebagaimana telah ada yaitu adanya 1) Pembukaan; 2) Penyelenggaraan Pertandingan dan Perlombaan serta 3) Penutupan.

Refferensi: Tim Penulis, 2003. Sejarah Olahraga Indonesia, Ditjen Olahraga Departemen Pendidikan Nasional.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: