Skip to content

Atas Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Padang Panjang Mendapat Penghargaan dari PBB

31/05/2010

Berita Antara, memberitakan:

Wali Kota Padang Panjang Suir Syam memperoleh penghargaan dari Badan Kesehatan Dunia PPBB atau WHO atas prestasinya menerapkan Kawasan Tanpa Rokok di daerahnya.

Penghargaan diserahkan perwakilan WHO untuk Indonesia Khanchit Limpakarnjanarat pada puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) di Padang Panjang, Sumbar. Disaksikan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Gubernur Sumbar Marlis Rahman penyerahan itu diberikan Senin, 31 Mei 2010.

Khanchit Limpakarnjanarat menegaskan Kota Padang Panjang telah berhasil menerapkan kawasan tanpa asap rokok (KTR) yang diterapkan di tujuh kawasan yakni sekolah, tempat ibadah, sarana kesehatan, tempat kerja, angkutan umum, tempat rekreasi dan tempat kegiatan belajar-mengajar.

Padang Panjang juga yang pertama melarang iklan dan promosi rokok di dalam kotanya sehingga perlu dicontoh oleh daerah-daerah lainnya serta membuat peraturan yang mendukung kawasan tanpa rokok.

Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia dimana 43 di antaranya bersifat karsinogen, yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Konsumsi rokok dan tembakau merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan penyakit seperti kardiovaskular, stroke, kanker paru, kanker mulut rahim dan kelainan kehamilan yang merupakan penyebab kematian utama di dunia.

Menurut WHO, setiap detik satu orang meninggal akibat merokok. Selain itu rokok juga membunuh separuh dari masa hidup perokok.

Data epidemi dunia menunjukkan tembakau membunuh lebih dari lima juta orang setiap tahun dan jika ini terus berlanjut, maka pada 2020 diproyeksikan terjadi 10 juta kematian dengan 70 persen kematian di negara berkembang.

Konsumsi rokok di Indonesia mencapai 220 miliar batang per tahun, merupakan urutan ketiga setelah China dan India, dimana separuh lebih rumah tangga di Indonesia mempunyai sedikitnya satu perokok dan hampir semua merokok di rumah.

Seseorang bukan perokok yang menikah dengan perokok mempunyai risiko kanker paru sebesar 20-30 persen dan berisiko sakit jantung karena asap yang berasal dari ujung rokok tiga kali lebih berbahaya dari asap rokok utama yang dihisap perokok.

One Comment leave one →
  1. putri dyah permalink
    31/05/2010 9:35 pm

    Smg di Jakarta bisa konsisten dg UU KTR, shg klo jalan2 di Mall, ITC dan t4 belanja lainnya tidak lagi melihat orang2 merokok di counter2 penjualan. banyakan sih justru bukan pengunjung tp penjual alias karyawannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: