Skip to content

ANTARA KORUPSI DAN “PUNGLI” DI SEKITAR KITA

05/04/2010

Minggu-minggu di persimpangan bulan Maret dan April 2010 ini media cetak dan televisi santer memberitakan seputar kasus korupsi, terutama seorang yang bernama Gayus HP Tambunan. Usianya masih 30 tahun. Tapi sepak terjangnya sudah menggegerkan Mabes Polri. Gayus HP Tambunan, belakangan ini namanya santer disebut sebagai makelar kasus pajak yang ditangani tidak sesuai aturan alias penuh rekayasa. Kasus ini diduga melibatkan sejumlah jenderal di kepolisian.

Orang pasti menduga-duga bahwa seorang PNS dengan pangkat dan golongan IIIA kok bisa memiliki kekayaan puluhan milyar rupiah, karena sampai pensiun saja untuk memiliki rumah mewah harus dengan usaha lain melibatkan kredit bank yang butuh puluhan tahun untuk melunasi. Pikiran kita akhirnya merambah, pasti ada keterlibatan orang lain dalam lingkupnya. Bahkan pembuka kasus ini disampaikan oleh seorang mantan Kabareskrim Susno Duaji, maka lebih mengembang lagi ……. Ini pasti lembaga lain juga ada sangkut pautnya.

Namanya pertama kali disebut oleh mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji. Susno menyebutkan Gayus memiliki Rp 25 miliar di rekeningnya, namun hanya Rp 395 juta yang dijadikan pidana dan disita negara. Sisanya Rp 24,6 miliar tidak jelas. Sebagai perbandingan, gaji pokok PNS golongan IIIA dengan masa jabatan 0 sampai 10 tahun hanya berkisar antara Rp 1.655.800 sampai Rp 1.869.300 per bulan. Namun angka ini belum memperhitungkan tunjangan menyusul adanya remunerasi di Ditjen pajak, yang lebih awal diberlakukan dibanding dengan PNS di Kementrian lainnya. Maka hitung-hitung gaji pokok dan tunjangan lainnya bisa mencapai 8,5 juta bahkan 12 juta.

Maka saat kita amati apakah disekitar kita ada korupsi? Bila jeli maka sebenarnya “ada korupsi di sekitar kita.” Sebagai cerita maka kegiatan saya di hari Sabtu 3 Maret 2010 cukup menjadi titik kecil sebuah pergulan batin “ini korupsi atau bukan?”.

Sabtu pagi ini meluncurlah kami sekeluarga ke Monas, bersama istri, dua putri kami, dan dua orang yang membantu keluarga kami. Fokus keluarga disamping ngajak jalan-jalan putri kami 4,5 tahun dan 2 tahun, juga mengenalkan lebih dekat dua orang yang telah membantu di rumah kami untuk melihat lambangnya kota Jakarta tersebut. Maka saat membeli tiket pintu masuk monas, disitu tertera tiket dewasa 2.500 rupiah dan anak-anak 1000 rupiah. Maka kami beli 4 tiket dewasa dan 2 tiket anak-anak, seharusnya totalnya 12.000 rupiah. Tapi dengan lantangnya petugas menyebutkan “semua 13.000 rupiah” dan dikembalikan dua ribuan sebagai kembalian dari 15.000 rupiah yang .  Selanjutnya saat membeli tiket untuk naik ke puncak Monas, dewasa 3.000 rupiah dan anak-anak 2.500 rupiah. Maka saat menyebutkan tiket yang harus dibeli, saya jawab “empat dewasa dan satu anak yang sekolah”. Hitung-hitung yang benar pasti cukup mengeluarkan uang sejumlah 14.500 rupiah, ternyata petugas menjawab “semua 16.000 rupiah”. Rekreasi  ke Monas saja ternyata setiap pembeli tiket dipungut 1.000 dan 1.500 rupiah, berarti ada berapa ratus atau bahkan ribuan setiap hari libur rekreasi disini. Padahal sekitar menjelang jam 10.00 wib waktu mengantri tidak lebih satu jam, bagaimana kalau pas hari libur sekolah…….. pasti mengantri lebih lama lagi.

Selanjutnya siang itu aku mampir di terminal di Lebih Bulus untuk membeli tiket bis, biasa saat akan memasuki terminal membayar peron. Seorang petugas dengan seragam yang teringat hanya tulisan ‘……….. Perhubungan’ meminta uang peron. Petugas tersebut tidak menyebutkan berapa rupiah, tapi saat diberi 500 rupiah itupun tanpa diberi tanda masuk terminal. Saat saya minta hanya memberi kertas tanda masuk terminal yang bukan dari bundel tapi sepertinya bekas dari orang lain. Padahal di kertas itu tertera “Rp 200” berarti hari itu petugas sudah korupsi juga dong. Padahal sering kulihat ada yang memberi seribu rupiah pun sering tidak dikembalikan kalau tidak diminta. Kejadian ini terjadi di hari biasa bukan saat-saat liburan, bahkan saat liburan hari raya terminal ini pengunjungnya bisa 10 kali lipat.

Catatan ini baru terjadi di tempat rekreasi dan sebuah terminal, bagaimana dengan tempat lainnya di sekitar kita? Coba amati tempat-tempat lain, seperti jembatan timbangan, restribusi angkutan umum jalan raya (TPR),  pengelola parkir,  dan sebagainya. Uang yang seharusnya masuk ke kas Negara, namun dikuasai oleh seorang atau kelompoknya. Maka saat berita kasus korupsi yang melibatkan Gayus HP Tambunan, nilainya milyaran rupiah karena tempatnya  berkeliaran uang milyaran. Tetapi saat orang berada di level distribusi uang ratusan, ribuan, ratusa ribu, dan jutaan rupiah, masihkah juga seperti itu?

Semua berpulang pada diri kita untuk membersihkan diri dari rizki yang haram, sehingga mendapat rizki halal dan berkah. Amin.

4 Comments leave one →
  1. 21/04/2010 9:05 pm

    korupsi pungli upeti hadiah apapun itu udah ciri khas bangsa mas. Sok ajah mo masuk ini mesti nyogok, itu nyogok, urusan nyogok, jadi orang gak usah pinter tabi bener ya bagus pinter bener tapi dikit orang gitu. Orang pinter dah gede jadi copet gila gue lihat Indonesia kaya kien, wkwkwkwkwkw

  2. 16/10/2011 11:55 pm

    malam pak Dwi. saya ingin bertanya sedikit mengenai cerita bapak tentang korupsi yang terjadi di monas. apakah hal tersebut bapak alami hanya sekali? atau setiap kali berkunjung ke monas bapak mengalami hal serupa? saya adalah mahasiswa dari Universitas Paramadina pak, yang mendapat tugas investigasi korupsi. mohon bantuannya dengan menjawab pertanyaan saya di atas. terima kasih pak Dwi. selamat malam🙂

    • 17/10/2011 11:34 pm

      Malam jg Siska, terima kasih kunjungannya….. Untuk naik ke Monas memang baru sekali. Itupun penasaran karena lama tinggal di Jakarta tapi belum pernah naik sekaligus untuk edukasi anak-anak saya, dan untuk mengulang jika antrian seperti di hari libur sepertinya kurang berminat lagi. Tapi dengan instrumen observasi bisa lebih jauh diambil datanya. Kalau pungutan di luar institusi itu kan namanya pungutan liar, namun jika dilakukan oleh petugas yang diamanahkan itu kan bisa disebut salah satu bentuk korupsi. Coba Anda investigasi di tempat-tempat lainnya, yang sering dijumpai. Misalnya: restribusi TPR di jalan, restribusi karcis peron di terminal . dll.

  3. 24/10/2011 11:46 pm

    malam pak dwi, maaf br saya respon lagi. ada yang ingin saya tanyakan lagi pak dwi, kenapa pada saat itu bapak tidak menegur petugas tiket tersebut tuk komplain mengenai jumlah harga tiket yang mereka tetapkan? terima kasih sebelumnya pak dwi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: