Skip to content

IKLAN SIMPATI MAX, MENGAPA HARUS BEGITU?

27/02/2010

Di awal tahun 2010 ini, Januari-Februari kita sering menyaksikan iklan Simpati Max (dari Telkomsel) di televisi. Pada iklan itu digambarkan seorang wanita muda sedang menelopon sambil membawa alat pemukul (softball batting). Tiba-tiba wanita tersebut dengan raut wajah senang dan sambil tertawa, memukul dengan kerasnya sebuah jam weker yang bagus dengan alat pemukul tersebut sehingga hancur. Tak hanya puas dengan sekali pukul lalu mengayunkan kembali pemukul lalu diulang-ulang dengan bengisnya.

Walaupun untuk meng-upload tulisan ini saya menggunakan modem flash yang didalamnya ada kartu Simpati Max, tapi dengan rasa miris maka hal ini semoga dapat menjadi perhatian buat pemasaran sebuah produk tertentu. Mengapa memasarkan sebuah produk harus diisi dengan nilai-nilai yang tidak mendidik, harusnya pemirsa dididik agar santun dan menghargai sebuah barang hasil karya manusia.

Saya merasa heran, apa sebenarnya yang dimaui oleh pembuat dan yang empunya iklan. Padahal hanya mengiklankan produk dengan penggunaan pulsa yang tidak harus memperhitungkan waktu, tetapi sebuah alat penunjuk waktu harus dihancurkan. Apa yang salah dengan alat penunjuk waktu tersebut. Bukankah yang harus mengontrol adalah diri pengguna telepon, bukannya kita yang dikontrol oleh sebuah alat bantu.

Makna pendidikan apa yang bisa diambil dari tayangan iklan seperti itu. Semoga siempunya dan pembuat iklan memperhatikan apa yang akan disuguhkan kepada masyarakat, adakah nilai-nilai positif dalam kurun waktu singkat atau kurun waktu panjang. Agar pendidikan masyarakat di Negara ini masih dapat diperbaiki, karena dalam decade sekarang saja Negara kita telah ditinggalkan kemajuannya oleh Negara-negara di kawasan Asia tenggara.

Yang diharapkan pemirsa dalam sebuah tanyangan adalah informatif, edukatif, motivatif, inspiratif dan menghibur.

Kembali ke iklan tersebut jika dihubungkan dengan kondisi di masyarakat sering kita jumpai dalam suatu kejadian misalnya anak kecil jatuh atau kejedot tembok, maka anak tersebut sering dihibur dengan kata-kata “kodoknya nakal” atau “temboknya dipukul lalu bilang nakal”. Seharusnya sebagai orang dewasa selalu membiasakan untuk bagaimana lebih waspada dan hati-hati agar tidak terjadi kecelakaan, tidak selalu menyalahkan sesuatu diluar tubuhnya. Klo sudah hati-hati dan terjadi kecelakaan maka itu baru sebuah resiko.

Makanya sering kita lihat aktivitas demonstrasi; merusak tanaman di pot, menghancurkan pagar, atau membakar mobil tanpa alasan yang tidak masuk akal. Atau dalam kehidupan jika terjadi banjir, menyalahkan orang lain padahal untuk memelihara saluran dan kebersihan tidak pernah kita usahakan. Semoga semua ini dapat dijadikan koreksi bagi kita di masyarakat atas apa yang terjdi.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: